Batam (ANTARA) - Kota Batam, Kepulauan Riau akan menjadi tempat persinggahan untuk sebanyak 33 bhikkhu (biksu) yang sedang melakukan perjalanan spiritual dengan berjalan kaki (Tudhong) pada 16 hingga 18 April, dalam perjalanan mereka menuju Candi Borobudur.
Wakil Ketua Umum Panitia Bhikkhu Tudhong 2025 Batam Abi Kho menjelaskan bahwa perjalanan para bhikkhu dimulai sejak 6 Februari dari Bangkok, Thailand, melewati Malaysia dan Singapura sebelum tiba di Batam.
"Di Batam, mereka tidak berjalan kaki, tetapi akan berpartisipasi dalam kegiatan bertema toleransi untuk perdamaian dunia. Mereka akan mengunjungi masjid, gereja, dan pura, serta bertemu dengan umat beragama lain," ujarnya saat dihubungi di Batam, Jumat.
Kegiatan ini mengusung tema toleransi untuk perdamaian dunia, dengan kunjungan ke tempat-tempat ibadah lintas agama dan menurutnya, Batam dipilih karena memiliki tingkat toleransi yang tinggi.
"Kami ingin menggaungkan nilai-nilai ini lebih luas. Puncaknya, Bhikkhu Tudhong akan mencapai Candi Borobudur untuk merayakan Hari Raya Waisak pada 12 Mei," tambahnya.
Baca juga: Wali Kota Semarang apresiasi toleransi masyarakat sambut biksu Thudong
Baca juga: Biksu Thudong sampai di Candi Borobudur
Tudhong adalah tradisi perjalanan spiritual bagi umat Buddha yang menekankan kesederhanaan dan bentuk ketaatan dan kedisiplinan karena telah menempuh ribuan kilometer dengan berjalan kaki.
Para bhikkhu hanya makan dua kali sehari—pagi dan sebelum siang—serta tidur seadanya tanpa menggunakan kasur dan di rombongan ini, terdapat bhikkhu dari Thailand, Myanmar, Amerika, dan Malaysia.
"Kami pertama kali menerima Bhikkhu Tudhong di Batam pada 2023, tetapi saat itu belum terorganisir dengan baik. Tahun ini, dengan koordinasi lebih matang bersama Kementerian Agama, kami berharap penyelenggaraannya lebih besar dan berkesan," katanya.
Setelah dari Batam, para bhikkhu akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta, di mana mereka akan dilepas oleh Wakil Presiden dan Kementerian Agama sebelum berjalan kaki menuju Borobudur.
Sepanjang perjalanan, masyarakat kerap memberikan makanan dan dukungan kepada para bhikkhu.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam Ardiwinata menyebut bahwa kegiatan ini dapat membuka peluang wisata religi.
"Batam adalah kota yang menjunjung tinggi toleransi beragama. Keragaman budaya dan kegiatan agama di sini sangat terbuka bagi semua," katanya.
Selama di Batam, para bhikkhu akan mengunjungi beberapa tempat ibadah, termasuk Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, Vihara Grha Buddha Manggala, Gereja Katolik Kerahiman Ilahi Paroki Tiban, dan Pura Agung Amerta Bhuana. Mereka juga akan melaksanakan kegiatan Sanghadana dan Pindapata sebagai bagian dari ritual keagamaan.
Baca juga: Pemprov Jateng siap kawal ritual biksu Thudong hingga Borobudur
Baca juga: Wali Kota: Semarang memiliki sejarah panjang penyebaran agama Buddha
Pewarta: Amandine Nadja
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2025