Banjarmasin (ANTARA) - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengoptimalkan potensi bonus demografi di Kalimantan Selatan untuk kesejahteraan masyarakat melalui penguatan literasi keuangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia usia produktif secara berkelanjutan.
Direktur Ekonomi Syariah dan BUMN Bappenas Rosy Wediawaty dalam keterangannya di Banjarmasin, Selasa, mengatakan proporsi penduduk usia produktif di Kalsel mencapai 68 persen, yang merupakan aset strategis nasional.
“Potensi besar ini harus dikonversi menjadi kemakmuran riil agar setiap lapisan masyarakat merasakan dampak pembangunan secara langsung,” ucapnya.
Menurut dia, besarnya proporsi penduduk usia produktif ini mengindikasikan fase bonus demografi yang sangat menguntungkan.
“Momentum ini harus kita maksimalkan untuk memperkuat sistem perlindungan hari tua, termasuk dana pensiun sebagai fiscal buffer di masa depan," tuturnya.
Baca juga: Membaca arah kesejahteraan Indonesia
Ia menjelaskan bahwa kelompok produktif berusia 15-64 tahun di Kalsel merupakan pilar utama ketahanan ekonomi keluarga. Oleh karena itu, Bappenas memprioritaskan penyiapan jaminan sosial yang kuat demi memastikan warga tetap sejahtera dan mandiri saat memasuki masa tua kelak.
Dari aspek pendidikan sebagai indikator kesejahteraan, Rosy memaparkan data Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) di Kalsel yang terus tumbuh positif, tercatat meningkat secara stabil dari 8,69 tahun pada 2020 menjadi 9,02 tahun pada 2024.
Meski naik, Rosy memberi catatan bahwa capaian RLS di Kalsel masih berada di bawah angka nasional sebesar 9,22 tahun pada 2024. Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah daerah untuk mengakselerasi kualitas pendidikan agar penduduk usia produktif Kalsel memiliki daya saing tinggi di tingkat nasional.
"Modal SDM perlu ditingkatkan secara menyeluruh melalui edukasi dan literasi keuangan. Kita harus memastikan masyarakat usia produktif ini terintegrasi ke dalam sistem keuangan formal secara sehat dan produktif," katanya.
Baca juga: Buku Generasi Emas 2045, ketika teknologi bukan kunci utama
Bappenas pun mendorong penguatan akses masyarakat terhadap produk tabungan, kredit usaha, hingga investasi sebagai bentuk nyata misi pelayanan publik untuk melindungi rakyat dari jeratan praktik keuangan ilegal yang dapat merusak stabilitas ekonomi rumah tangga.
Menurut Rosy, masyarakat yang memiliki literasi finansial tinggi akan lebih berdaya dalam mengelola potensi ekonomi desa mereka. Kemandirian ini menjadi fondasi utama dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat yang berkelanjutan di tingkat akar rumput tanpa bergantung pada skema bantuan sosial semata.
“Sinergi antara kualitas pendidikan dan kemandirian finansial menjadi kunci bagi Kalsel menyongsong Indonesia Emas 2045. Bappenas berkomitmen memastikan bonus demografi ini benar-benar membawa berkah kemakmuran bagi seluruh warga Kalimantan Selatan,” ujar Rosy Wediawaty.
Baca juga: Indonesia 2045: Utopis tanpa inovasi sains
Baca juga: Mendagri: Bonus demografi-pembangunan desa kunci Indonesia Emas 2045
Baca juga: Wamenkomdigi: Indonesia butuh SDM cakap untuk hadapi bonus demografi
Pewarta: Tumpal Andani Aritonang
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































