Jakarta (ANTARA) - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Rachmat Pambudy mengharapkan pemutakhiran indeks daya saing daerah (IDSD) menjadi cermin kesejahteraan masyarakat di daerah.
“Saya berharap Kepala BRIN memastikan bahwa indeks ini nantinya juga mencerminkan kesejahteraan masyarakat di daerah. Jadi, tidak sekadar indeks, karena indeks itu angka, tetapi juga mencerminkan kesejahteraan masyarakat,” kata Rachmat dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) baru saja merilis Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 yang menjadi dasar bagi daerah untuk meningkatkan daya saing masing-masing daerah.
IDSD diukur dengan menggunakan indikator, yang datanya sebagian besar diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS). Indikator itu digunakan untuk mengukur empat komponen daya saing, yaitu lingkungan pendukung, sumber daya manusia, pasar, dan ekosistem inovasi. Hal ini dapat menjadi pegangan kepala daerah untuk mengetahui posisi dan arah pembangunan daerah.
Kepala Bappenas mengapresiasi BRIN yang telah melakukan pemutakhiran IDSD. “Hal ini penting dilakukan karena menjadi cerminan bagi indeks daya saing nasional sebagai langkah awal menuju Indonesia Emas 2045".
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan badan yang dipimpinnya terus mengukur indeks daya saing di level daerah, yang kemudian menjadi salah satu kompas bagi perbaikan daya saing daerah.
Melalui skor IDSD, pemerintah daerah dapat melihat tingkat daya saingnya sebagai dasar perbaikan kebijakan dan upaya peningkatan pembangunan yang berkelanjutan.
“Jadi, indeks sekali lagi bukan sekadar upaya peningkatan (skor), tetapi kita harapkan indeks ini bisa berdampak pada perubahan dan transformasi yang dilakukan oleh kepala daerah, khususnya dalam berbagai bidang, terutama bidang ekonomi,” kata Arif.
Karena itu, BRIN memiliki peran untuk mendorong inovasi daerah semakin kuat bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) maupun Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) yang saat ini sudah banyak di berbagai daerah. Dengan begitu, daerah tersebut bisa semakin kuat dalam memberikan nilai tambah untuk menciptakan ekosistem riset dan inovasi, katanya menegaskan.
“Tumbuhnya riset dan inovasi ini akan menjadi kekuatan bagi Indonesia ke depan, karena Indonesia diharapkan akan menjadi empat besar dunia pada tahun 2050. Tidak ada cara lain selain memperkuat human capital dan inovasi,” ujar dia.
Dengan dirilisnya indeks itu, ia berharap daerah semakin semangat untuk terus memperbaiki indeks masing-masing melalui berbagai langkah kebijakan dan program pembangunan. BRIN memastikan akan mengandalkan berbagai perguruan tinggi agar inovasi dan teknologi yang ada dapat memperkuat ekonomi daerah.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto juga mengatakan bahwa Kementerian Dalam Negeri bakal selalu berkoordinasi dengan BRIN dalam pembinaan teknis terkait inovasi di daerah.
“Inovasi ini bukan hanya lomba, tetapi harus terintegrasi mulai dari perencanaan, penganggaran, hingga evaluasi. Tentu akan membutuhkan co-creation dan keterlibatan banyak pihak,” ujar Bima.
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































