Aceh (ANTARA) - Terik matahari siang membawa kehangatan Dataran Tinggi Gayo yang selalu dilingkupi hujan dalam tiga hari terakhir ini.
Karyadi sudah sibuk sedari pagi menjemur kopi. Tangannya tangkas, berharap kopi yang baru dipetiknya segera kering.
Rumah Karyadi yang terletak di Kampung Kalasegi, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, masih dalam kondisi luluh lantak imbas bencana Sumatera, 25-30 November 2025 lalu.
Selepas banjir, akses menuju Kampung Kalasegi juga masih belum lekas membaik karena jalan transportasi utama dan jembatan penghubung antar kecamatan yang terletak di area Danau Lut Tawar ini belum bisa semuanya diakses menggunakan alat berat.
Proses perbaikan juga sangat sulit dilakukan mengingat kondisi material berupa batu, endapan lumpur, dan puing-puing kayu masih berserakan.
Belum lagi tantangan longsoran yang kerap terjadi karena guyuran hujan deras. Semalam, lima ratus meter dari rumah Karyadi terjadi longsoran yang menutup akses jalan.
Asa Karyadi tapi tak redup. Tetangganya sebagian besar bertahan di posko pengungsian. Namun, ia memutuskan untuk kembali ke rumah dan membersihkan endapan lumpur sekaligus demi bisa merawat anak keduanya selama ini yakni kopi.
"Sehari-hari sudah berkebun. Alhamdulillah dapat bantuan saluran air ini kan," ujar penyintas bencana Sumatera yang berprofesi sebagai petani kopi ini.
Dengan bantuan saluran irigasi, Karyadi bersyukur karena saat ini telah memasuki masa panen kopi. Terlebih jalan ke kebunnya sudah bisa diakses.
Perlahan, Aceh Tengah memang terus bergerak merevitalisasi kondisi pasca bencana. Terutama di sektor industri perkebunan, dengan Kopi Gayo sebagai primadona, yang perlahan lekas pulih.
Di Jalan Takengon Blangkejeren, Mendele, Kebayakan, Aceh Tengah, terdapat Toko Kopi Gayo yang sudah buka meski juga terdampak bencana Sumatera.
Pemilik Toko Kopi Gayo, Iwan Aramico, mengaku bahwa industri kopi Gayo saat ini mulai pulih pasca bencana. Dengan kondisi perkebunan kopi yang terdampak longsor, Iwan Aramico mengatakan bahwa harga biji kopi Gayo juga terpengaruh di pasar.
Baca juga: Dari tanah menuju cangkir, dari warung sampai kafe
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































