Bahrain, negeri pencari mutiara di jantung Teluk Persia

2 hours ago 1
Mutiara menjadi salah satu komoditas perdagangan paling sulit sekaligus paling menguntungkan. Karena yang dicari adalah sesuatu yang sangat langka

Muharraq, Bahrain (ANTARA) - “From the depth of the sea I have risen, O Lord,
Twice times ten I went down below.
The date palm peg it held my nose,
The weights on the rope, they anchored my toes.”

Syair tersebut terpajang di dinding sebuah rumah tua di kota Muharraq, Bahrain. Deretan bait berima itu merupakan nukilan salah satu mawwal, atau syair yang dinyanyikan para penyelam mutiara (pearl diver) di tengah ayunan ombak perairan Teluk Persia.

Selain dilantunkan untuk menemani pelayaran, syair itu turut menggambarkan kerasnya kehidupan para penyelam tatkala industri mutiara masih menjadi penopang utama perekonomian Bahrain.

Kini, profesi penyelam mutiara atau dalam bahasa Arab disebut ghawwās masih bertahan. Bukan sekadar mata pencaharian tradisional, melainkan menjadi wujud warisan identitas sekaligus saksi bahwa jauh sebelum ladang minyak ditemukan, denyut ekonomi negeri Teluk itu berasal dari mutiara di laut terdalam.

Kerajaan yang bergantung pada mutiara

Di salah satu rumah yang kini menjadi museum, Abbas Al-Faraj (41) berdiri di depan sebuah foto hitam putih berukuran besar yang terpacak di dinding. Gestur tangannya menunjuk potret penyelam mutiara sambil bercerita kepada para jurnalis.

“Para leluhur saya dulu menyelam tanpa tabung oksigen. Mereka hanya mengandalkan kemampuan menahan napas dan peralatan sederhana yang dibuat sendiri,” ujarnya.

Pemandu wisata Abbas Al-Faraj (41) yang juga seorang penyelam mutiara, menjelaskan sejarah Pearling Path kepada para jurnalis, Muharraq, Bahrain, Kamis (12/2/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)

Abbas merupakan seorang pemandu wisata dari Kementerian Pariwisata Bahrain yang ditugaskan menemani para jurnalis untuk mengunjungi Pearling Path, sebuah kawasan di Muharraq yang menjadi ‘museum’ bagi sejarah panjang industri mutiara Bahrain.

Di sepanjang jalur itu, rumah-rumah dibangun dari batu karang yang direkatkan tanah liat, berwarna coklat pucat menyaru dengan pasir gurun. Gang-gang sempit yang dulu dilalui para pedagang mutiara, kini ramai dengan turis yang berlalu-lalang.

Abbas memahami betul soal industri ini sebab dirinya sendiri merupakan salah satu penyelam mutiara, turun temurun dari keluarganya yang juga bagian dari generasi penyelam yang pernah menggantungkan hidup dari laut. Kisah keluarganya bukan cerita tunggal. Di masa itu, hampir seluruh negeri bergantung pada laut.

Komplek rumah dan gang di kota tua Muharraq, Bahrain, Kamis (12/2/2026) (ANTARA/Bayu Saputra)

Sebelum dikenal sebagai negara penghasil minyak, Bahrain berabad-abad sebelumnya pernah menjadikan mutiara sebagai tulang punggung ekonominya.

Pada tahun 1877, mutiara menyumbang sekitar tiga perempat dari total ekspor Bahrain. Kemudian menjelang tahun 1905, Bahrain bahkan mengelola hampir setengah perdagangan mutiara di kawasan Teluk.

Letaknya yang strategis di jalur dagang antara Irak dan India menjadikannya simpul penting perdagangan global industri ini. Setiap musim panas, ribuan penyelam membuang sauh untuk berlayar mencari mutiara di perairan Teluk Persia.

Dalam industri penyelam mutiara, ada bentuk struktur sosial yang kompleks: nakhoda kapal (nakhuda), penyelam (ghawwās), penarik tali (saib), hingga pedagang (tawash).

“Mutiara menjadi salah satu komoditas perdagangan paling sulit sekaligus paling menguntungkan. Karena yang dicari adalah sesuatu yang sangat langka,” ujar Abbas.

Baca juga: AirAsia sebut hub Bahrain tingkatkan kerja sama ekonomi RI

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |