Bandung (ANTARA) - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mendorong implementasi peta kawasan rawan bencana gempa bumi untuk wilayah Sesar Lembang dan Bandung Raya sebagai upaya mitigasi berkelanjutan.
Penyelidik Bumi Utama Badan Geologi Supartoyo di Bandung, Kamis, menjelaskan peta rawan tersebut telah disusun menggunakan berbagai pendekatan ilmiah sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai landasan implementasi upaya mitigasi.
“Peta kawasan rawan gempa ini disusun berdasarkan kajian ilmiah, mulai dari analisis geomorfologi hingga pengukuran mikrotremor di lapangan, tantangan utamanya sebetulnya di konsistensi implementasi,” katanya.
Menurut dia, penyusunan peta itu mengacu pada regulasi Kementerian ESDM, termasuk Peraturan Menteri ESDM Nomor 15 dan 16 Tahun 2011, sehingga dapat menjadi dasar ilmiah dalam penyusunan kebijakan tata ruang, penerbitan izin mendirikan bangunan, serta pembangunan infrastruktur.
Baca juga: Badan Geologi: Mitigasi ancaman nyata Sesar Lembang tak bisa ditunda
Berdasarkan hasil kajian tersebut, lanjutnya, kawasan Sesar Lembang dan sebagian wilayah Kota Bandung berada pada kategori menengah dengan potensi intensitas VII hingga VIII MMI apabila terjadi gempa signifikan.
Selain pendekatan probabilistik, Badan Geologi juga melakukan analisis deterministik dengan asumsi seluruh segmen Sesar Lembang sepanjang sekitar 29 kilometer bergerak secara bersamaan.
Dalam skenario itu, kata dia, gempa berpotensi mencapai magnitudo 6,8–7 dengan percepatan tanah hingga 0,6–0,8 g.
“Hasil analisis deterministik ini digunakan sebagai skenario terburuk untuk mendukung penyusunan rencana kontingensi daerah,” ujarnya.
Supartoyo menekankan peta kawasan rawan bukan sekadar dokumen teknis, melainkan instrumen penting dalam pengambilan keputusan pembangunan jangka panjang.
Baca juga: BMKG perkirakan Sesar Lembang potensi timbulkan gempa magnitudo 5,5
“Peta ini seharusnya menjadi acuan dalam setiap kebijakan pembangunan, terutama di wilayah yang berada dekat jalur sesar,” katanya.
Ia mengatakan kawasan yang berada tepat di jalur sesar permukaan sebaiknya dihindari untuk pembangunan infrastruktur vital, sementara daerah dengan potensi guncangan tinggi harus menerapkan standar konstruksi tahan gempa yang lebih ketat.
Selain mitigasi struktural, ia juga menyoroti pentingnya mitigasi non-struktural seperti edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi berkala, serta penyusunan rencana kontingensi yang melibatkan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat.
“Data dan peta sudah tersedia. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen bersama untuk implementasi mitigasi,” ujarnya.
Menurut dia, tanpa penerapan yang tegas dalam tata ruang dan pengawasan pembangunan, risiko gempa di kawasan Bandung Raya akan tetap tinggi meskipun kajian ilmiah telah dilakukan secara komprehensif.
Baca juga: Perempuan, garda depan mitigasi bencana sesar lembang
Pewarta: Ilham Nugraha
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































