Jakarta (ANTARA) - Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyatakan di kawasan Asia Tenggara, pengembangan bahan bakar nabati berbasis sawit dinilai terbukti efektif mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Wakil Ketua Umum Aprobi, Catra Aradea de Thouars menyebutkan pasar energi global saat ini tengah menghadapi tantangan dalam menjaga kedaulatan energi sembari menekan emisi karbon.
Di Asia Tenggara, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa,l kemajuan Indonesia terlihat nyata. Indonesia mempelopori mandatori pencampuran tinggi melalui transisi dari B40 menuju B50, sementara Malaysia dan Thailand turut memperluas program domestik mereka,.
"Biodiesel sawit bukan lagi sekadar bahan bakar alternatif, melainkan fondasi kemandirian energi dan stabilitas ekonomi," ujarnya.
Catra menambahkan ekspansi industri kini tidak hanya berfokus pada kendaraan darat, tetapi juga mulai merambah ke pengembangan bioetanol, B100 konsentrasi tinggi, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF).
Baca juga: Aprobi - BPDP edukasi Pramuka pentingnya energi terbarukan dan sawit
Baca juga: Aprobi sebut alokasi B40 naik jadi 15,646 juta kiloliter di 2026
Pada kesempatan tersebut Catra juga menjelaskan kegiatan 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali, 17 -18 September 2026 yang menegaskan peran strategis palm biodiesel sebagai pilar utama ketahanan energi nasional dan transisi menuju nol emisi karbon (net-zero emissions).
Dalam konferensi yang digagas Aprobi bersama Malaysian Biodiesel Association (MBA) dan Thai Biodiesel Producer Association (TBPA) serta didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) itu juga dibahas perkembangan mandatori biodiesel, kesiapan bahan baku, update teknologi, regulasi, kesiapan hingga keberlanjutan bahan baku serta penerapan standar ISPO/RSPO.
Sementara itu, Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mohammad Alfansyah menjelaskan skema pendanaan biodiesel menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan mandatori sebab, harga biodiesel dan harga solar tidak selalu berada pada tingkat yang sama.
"Peranan BPDP memberikan insentif untuk menutup selisih harga indeks pasar biodiesel dengan harga indeks pasar bahan bakar minyak jenis solar," katanya.
Baca juga: Aprobi apresiasi penyaluran B40 berjalan baik pada 2025
Baca juga: Aprobi: Pengembangan biodisel Indonesia paling maju di dunia
Pewarta: Subagyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































