Ancaman penggunaan kekuatan akan perparah angkara di Timur Tengah

7 hours ago 2

Beijing (ANTARA) - Saat perundingan nuklir terbaru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menunjukkan tanda-tanda kemajuan, dan putaran baru sedang dilangsungkan di Jenewa, harapan baru kembali muncul bahwa dialog, alih-alih kekuatan militer, dapat menjadi jalan keluar bagi perselisihan yang telah berlangsung lama.

Namun, optimisme rapuh ini berakar pada landasan yang rentan. Meski Washington dan Teheran menunjukkan sinyal-sinyal konstruktif, retorika tajam dan risiko konfrontasi militer terus membayangi, membuat prospek kesepakatan nuklir yang berkelanjutan menjadi tidak pasti.

Faktanya, ketika para diplomat bertemu, pasukan militer AS dimobilisasikan di seluruh Timur Tengah, memberikan tekanan besar terhadap Iran. Jika Washington menyerang Iran, pembalasan Teheran dapat menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh kawasan tersebut. Israel juga bisa terlibat. Situasi dapat dengan mudah lepas kendali, menyeret kawasan yang sudah lama dilanda konflik itu ke dalam perang lain yang skala dan konsekuensinya tak bisa diprediksi oleh siapa pun.

Peningkatan kehadiran kapal induk dan pesawat tempur yang terus berlanjut oleh Washington di kawasan tersebut mengirimkan sinyal yang sangat mengkhawatirkan. Ancaman atau penggunaan kekuatan tidak menciptakan keamanan; justru memperbesar ketidakpercayaan, meningkatkan ketegangan, dan memperburuk volatilitas situasi di Timur Tengah.

Di lingkungan yang sudah rentan, sikap militer semacam itu berisiko menghancurkan upaya diplomatik yang sedang dilakukan.

Timur Tengah telah berulang kali menanggung konsekuensi dari perang yang dilancarkan atas nama keamanan atau ketertiban. Berkali-kali, intervensi militer telah memecah belah masyarakat, memicu ekstremisme, dan meninggalkan luka kemanusiaan yang berkepanjangan.

Sejarah menunjukkan bahwa begitu konflik berkobar, jarang sekali konflik tersebut dapat terkendali. Eskalasi dapat terjadi dengan cepat, warga sipil menanggung beban terberat dengan nyawa dan darah mereka.

Bagi sebuah kawasan yang masih berupaya pulih dari gejolak yang telah berkecamuk selama bertahun-tahun, putaran konflik lain hanya akan memperpanjang siklus kerawanan dan penderitaan, dan tidak dibutuhkan oleh kawasan tersebut saat ini.

Jika perdamaian benar-benar menjadi tujuan, jalan yang ditempuh harus melalui cara-cara damai, bukan melalui paksaan militer.

Pewarta: Xinhua
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |