Akademisi Undiksha ciptakan bahan bacaan ramah disleksia 

19 hours ago 4
Bahan bacaan yang dikembangkan berupa cerita sederhana yang menggunakan jenis huruf khusus OpenDyslexic yang dimodifikasi dengan variasi warna per suku kata...

Singaraja, Bali (ANTARA) - Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja Ketut Trika Adi Ana berhasil menciptakan sebuah bahan bacaan yang didesain khusus sesuai dengan karakteristik anak disleksia, sehingga dapat membantu mereka membaca dengan lebih baik.

"Bahan bacaan yang dikembangkan berupa cerita sederhana yang menggunakan jenis huruf khusus OpenDyslexic yang dimodifikasi dengan variasi warna per suku kata, ukuran, serta aktivitas multisensory," kata Trika Adi Ana di Singaraja, Kamis.

Ia tergerak menciptakan bahan bacaan tersebut karena kasus siswa sekolah dasar di Bali yang mengalami disleksia tergolong tinggi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti Dr Andrea Carrol, setidaknya 20-40 persen siswa sekolah dasar di Bali mengalami disleksia. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi disleksia secara global yang berkisar antara 5-15 persen.

Baca juga: Dewan Pendidikan sebut ratusan siswa SMP di Buleleng tak bisa membaca

Siswa dengan disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca dan menulis, tetapi juga menghadapi berbagai permasalahan psikologis. Salah satunya adalah kecemasan akademik, dimana mereka merasa cemas setiap kali harus pergi ke sekolah, mengerjakan tugas, atau menghadapi ujian.

Bahkan dalam beberapa kasus, kata dia, anak dengan disleksia kerap menjadi korban perundungan dan mendapat pelabelan negatif karena dianggap lebih lambat dalam menguasai keterampilan membaca dan menulis dibandingkan dengan teman sebaya.

Tingginya kasus disleksia di Bali, menurutnya, membutuhkan perhatian dan penanganan serius. Siswa dengan disleksia memerlukan intervensi khusus yang dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan membaca. Penting untuk memahami bahwa mereka memiliki cara belajar yang berbeda.

Anak dengan disleksia sering kali kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b dan d, serta p dan q. Selain itu mereka juga mengalami kesulitan dalam membedakan kapan huruf e berbunyi /e/ dan kapan harus dibunyikan /Ə/.

"Tidak hanya itu mereka kerap mengalami kesulitan berkonsentrasi saat membaca teks panjang," ucapnya.

Baca juga: Yayasan Disleksia Bali bantu anak berkebutuhan khusus di Buleleng

Dalam beberapa kasus, lanjutnya, anak dengan disleksia bahkan melihat teks tampak bergelombang atau melompat-lompat, sehingga mereka memerlukan bahan bacaan yang didesain khusus agar lebih mudah dibaca.

Dari penelitian yang dilakukan, kata dia, bahan bacaan tersebut membantu anak disleksia membedakan huruf yang mirip serta meningkatkan kelancaran membaca.

Selain itu penggunaan alat bantu penunjuk juga terbukti efektif dalam membuat anak disleksia untuk fokus dalam membaca.

Lebih dari itu, kata dia, bahan bacaan yang menyediakan berbagai aktivitas ini juga membuat proses membaca menjadi lebih menyenangkan, sehingga berpotensi mengurangi kecemasan akademik mereka.

Hasil penelitian tersebut juga telah dipresentasikan di University of Sydney pada 29 Maret 2025 dan mendapatkan respons positif dari para peserta diskusi.

"Diharapkan, bahan bacaan ramah disleksia yang dikembangkan dapat menjadi instrumen intervensi yang lebih efektif dan dapat dimanfaatkan oleh anak-anak dengan disleksia di Bali serta di seluruh Indonesia," ucapnya.

Baca juga: Mahasiswa UGM hibahkan LexiPal ke institusi pendidikan

Pewarta: IMBA Purnomo/Rolandus Nampu
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2025

Read Entire Article
Rakyat news | | | |