Semarang (ANTARA) - Sebanyak 5.000 penganut agama Buddha merayakan Hari Raya Waisak 2026 di Candi Sewu Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Minggu.
Salah satu panitia perayaan Waisak Candi Sewu Keluarga Buddhayana Indonesia 2026 Bhikkhu Badrapalo Thera mengatakan tahun ini merupakan kali ke-22 Candi Sewu dijadikan sebagai lokasi perayaan Waisak.
“Rangkaian acara kami lakukan sudah dimulai dari satu bulan yang lalu, yang pertama sebelum memasuki sebulan untuk Purnama Sidhi di Bulan Waisak, Keluarga Budhayana Indonesia membuat tekat untuk puasa di Bulan Waisak," katanya.
Sebelum memasuki tahap itu, umat Buddha mengambil air suci di daerahnya untuk kemudian dibawa ke vihara dan dibacakan paritta setiap malam dan juga didukung dengan pembacaan Kitab Dhammapada dengan bahasa Pali dan bahasa Jawa selama satu bulan.
Baca juga: 19 WBP Lapas Narkotika Tanjungpinang terima remisi khusus Waisak 2026
Selanjutnya, pada Hari Waisak, diawali dengan pelaksanaan Kirab Agung Maitri Prajna Yatra, pensakralan altar, Sannipata Waisak, serta ritual Waisak yang berlangsung dengan khidmat. Kirab Agung dilakukan dengan rute dari Candi Plaosan ke Candi Sewu.
“Kirab ini merupakan perjalanan yang berlandaskan cinta kasih untuk mewujudkan kebijaksanaan, maka dengan tema Menebar Cinta, Menumbuhkan Perdamaian Dunia, dengan cinta kasih yang kita miliki akan berdampak pada dunia. Semoga kekuatan cinta yang kita miliki tidak ada perselisihan, perpecahan, peperangan,” katanya.
Ia mengatakan pelaksanaan Waisak kali ini diikuti dari berbagai daerah, di antaranya Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Lampung, Bali, DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Sumatera Utara, Tangerang, Banten, dan Jawa Timur.
Kehadiran umat dari berbagai wilayah tersebut mencerminkan semangat persatuan dalam keberagaman serta tekad bersama untuk menebarkan nilai-nilai cinta kasih kepada seluruh makhluk.
Baca juga: Dua warga binaan di Papua terima remisi khusus Hari Raya Waisak
Usai detik-detik Waisak, dikatakannya, dilaksanakan pradaksina, yaitu mengelilingi Candi Sewu sebanyak satu kali dengan penuh keyakinan dan harapan semoga semua makhluk hidup berbahagia.
“Ini untuk memberikan penghormatan pada tempat itu, tempat yang disucikan oleh umat Buddha,” katanya.
Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI Nyoman Suriadarma mengatakan hari ini perayaan Waisak dilakukan serentak di berbagai candi, di antaranya di Candi Sewu, Candi Sojiwan, Candi Borobudur, dan berbagai candi lain di Indonesia.
“Secara bersama-sama atau serentak melaksanakan merayakan Tri Suci Waisak, yang menggembirakan di tahun kami dari Kementerian Agama sudah tahun ke-2 mencanangkan Vesakha Sananda. Salah satu aktivitas terbesar yang dilakukan Vesakha Sananda adalah tepat di 20 Mei pada Kebangkitan Nasional kita segenap umat Buddha di tanah air ada 2.570 orang di 34 provinsi sudah melakukan hening nusantara bersama,” katanya.
Baca juga: Ditjenpas Kaltim remisi enam warga binaan di Hari Waisak
Selain itu, menurut dia, yang tidak kalah pentingnya ada dua perjalanan spiritual yang sama-sama sudah sampai di tempat tujuan masing-masing dengan selamat.
“Ada Indonesia Walk For Peace atau dulu dikenal dengan thudong berangkat dari Bali dan telah sampai di Borobudur, lalu di Jateng juga berangkat dari Candi Sima telah sampai di Candi Sewu,” katanya.
Ia mengatakan melalui tema yang diangkat kali ini, pemerintah berharap tercipta vibrasi kedamaian, vibrasi harmonisasi, kerukunan, dan kebersamaan hadir dari nusantara.
“Dengan cara demikian, kita umat Buddha di tanah air dapat memberi contoh, mengikuti keteladanan bahwa kedamaian, kerukunan akan menjadi syarat mutlak dari kedamaian negara dan kedamaian antarnegara,“ katanya.
Baca juga: Warga binaan Rutan Banda Aceh terima remisi khusus Waisak
Pada kesempatan yang sama, Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Klaten Jaka Purwanto berharap peringatan Hari Suci Waisak ini memberikan kedamaian, kebijaksanaan, cinta kasih, kebahagiaan bagi seluruh umat.
“Waisak tahun ini mengingatkan kita semua akan pentingnya menjaga keselarasan hidup, di tengah dinamika zaman modern yang serba cepat ini, di mana terkadang ego, gesekan sosial dan kepentingan pribadi muncul, maka kehadiran nilai dharma yang sejuk dan tenang sangat kita butuhkan,” katanya.
Ia mengatakan, agama hadir untuk menabur kasih sayang kepada sesama makhluk tanpa memandang sekat perbedaan agama.
“Klaten adalah daerah yang dianugerahi kekayaan yang luar biasa, kekayaan ini bukan hanya terletak pada suburnya tanah pertanian atau indahnya objek wisata air maupun candi-candi purbakala," kata Jaka.
Ia menambahkan, kekayaan terbesar Klaten adalah kedewasaannya dalam merawat keberagaman.
"Kita berdiri di atas tanah yang bersejarah. Di Klaten ini berdiri Candi Prambanan yang megah, berdampingan dengan Candi Sewu, Candi Plaosan, Candi Sojiwan yang bercorak Hindu dan Buddha. Juga candi-candi lain yang terletak berdampingan di Kabupaten Klaten,” katanya.
Ia mengatakan ini menjadi bukti bahwa sejak berabad-abad lalu nenek moyang di Klaten telah memberikan satu teladan dan contoh nyata apa itu toleransi, gotong-royong, bagaimana hidup berdampingan secara damai dalam perbedaan.
“Acara ini bukan hanya milik umat Buddha semata, melainkan juga menjadi kebahagiaan yang turut dirasakan oleh seluruh elemen masyarakat sebagai simbol kokohnya kerukunan beragama. Pada kesempatan ini saya ingin menyampaikan apresiasi tinggi kepada umat Buddha yang selama ini telah menunjukkan komitmen luar biasa yang ikut menjaga ketertiban dan keamanan, juga ketenteraman di seluruh wilayah,” katanya.
Baca juga: Ribuan umat Buddha ikuti upacara detik-detik Waisak di Borobudur
Pewarta: Teguh Imam Wibowo/Aris Wasita
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































