Havana (ANTARA) - Empat orang tewas ditembak dan enam lainnya luka-luka oleh petugas penjaga perbatasan Kuba pada Rabu pagi saat mereka memasuki perairan Kuba dengan perahu cepat terdaftar di AS, kata kementerian dalam negeri negara itu.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian tersebut mengatakan bahwa perahu cepat dengan nomor registrasi Florida AS FL7726SH terdeteksi berlayar secara ilegal sekitar 1 mil laut di timur laut kanal El Pino, di sebelah utara Corralillo, sebuah kota di Provinsi Villa Clara, Kuba tengah.
Saat satuan permukaan penjaga perbatasan mendekat untuk mengidentifikasi perahu tersebut, para penumpang di atasnya melepaskan tembakan, melukai seorang komandan Kuba, imbuhnya.
Kementerian tersebut menegaskan kembali komitmen Kuba untuk melindungi perairan teritorialnya, menyebut pertahanan nasional sebagai pilar kedaulatan dan stabilitas regional.
Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Marco Rubio mengatakan AS sedang menyelidiki penembakan tersebut, tetapi sejauh ini bergantung pada pemerintah Kuba apakah akan memberi informasi tentang apa yang terjadi.
"Setelah kami menghimpun lebih banyak informasi, kami akan siap untuk merespons secara tepat," ujarnya.
Ketika ditanya apakah insiden tersebut melibatkan personel pemerintah AS atau merupakan operasi pemerintah AS, Rubio menjawab, "Tidak."
Penembakan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Kuba. Pada Januari lalu, setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Washington mengambil alih kendali ekspor minyak Venezuela dan memblokir pengiriman ke Kuba. Pemerintahan AS juga mengancam akan mengenakan tarif pada barang-barang dari negara-negara yang memasok minyak ke pulau itu, memperdalam krisis ekonomi Kuba.
Kantor Pengawasan Aset Asing (Office of Foreign Assets Control/OFAC) di bawah naungan Departemen Keuangan AS pada Rabu mengatakan bahwa pihaknya akan mengizinkan penjualan kembali minyak asal Venezuela ke sektor nonpemerintah di Kuba, meskipun pasokan tersebut diperkirakan masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan negara itu.
Pewarta: Xinhua
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































