Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Wamenko Polkam), Lodewijk Freidrich Paulus mengajak umat Islam Indonesia untuk terus memperkuat nasionalisme dan menjaga persatuan bangsa di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global.
Dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Jakarta, Sabtu, Lodewijk menyebut berbagai konflik yang terjadi di sejumlah negara dapat menjadi pelajaran penting bagi Indonesia untuk terus menjaga keutuhan bangsa.
Baca juga: MUI bahas ketahanan pangan dan tata kelola energi dalam KUII ke-8
Dia mencontohkan situasi yang terjadi di Venezuela maupun Iran sebagai gambaran bagaimana dinamika suatu negara dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kuatnya rasa kebangsaan.
"Apa yang terjadi di Venezuela, apa yang terjadi di Iran, itu suatu dua hal yang bertolak belakang tentang nasionalisme kita," ujarnya.
Dia menekankan pentingnya peran seluruh elemen masyarakat, khususnya umat Islam, dalam menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Lodewijk juga mengingatkan bahwa tantangan keamanan nasional saat ini tidak hanya berasal dari ancaman militer, tetapi juga dipengaruhi oleh gejolak ekonomi, konflik internasional, hingga perubahan iklim yang dapat berdampak pada stabilitas sosial.
Baca juga: MUI deklarasikan sembilan hasil KUII ke-VII Bangka Belitung
Baca juga: Menko Polhukam: Umat Islam menjunjung tinggi nilai toleransi
"Umat Islam Indonesia harus betul-betul menjaga nasionalisme Indonesia, merajut persatuan dan kesatuan Indonesia," kata dia.
Menurutnya, menjaga nasionalisme menjadi salah satu modal penting agar Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut tanpa mengorbankan persatuan bangsa.
Wamenko Polkam berharap semangat kebangsaan yang kuat terus menjadi fondasi dalam menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik internasional.
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































