Wamenko Pangan: Demplot PMAAS Sukabumi dapat hasilkan 10 ton padi

1 week ago 6
PMAAS ini memiliki kelebihan jumlah pohon yang ditanam relatif lebih banyak daripada sistem biasa. Untuk satu hektare bahkan sampai 80 kilogram (kg) benih yang ditabur. Ini artinya suatu metodologi yang terus ditingkatkan

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq mengatakan Demplot Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) di Kota Sukabumi, Jawa Barat, mampu menghasilkan sekitar 10 ton padi pada panen September 2026.

Ia menilai sistem pertanian modern tersebut berpotensi menjadi model peningkatan produktivitas padi karena menerapkan metode tanam dengan jumlah tanaman lebih banyak dibandingkan pola konvensional.

“PMAAS ini memiliki kelebihan jumlah pohon yang ditanam relatif lebih banyak daripada sistem biasa. Untuk satu hektare bahkan sampai 80 kilogram (kg) benih yang ditabur. Ini artinya suatu metodologi yang terus ditingkatkan,” kata Hanif dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, penerapan teknologi tersebut perlu terus dievaluasi berdasarkan hasil produksi yang diperoleh sebelum dikembangkan secara lebih luas.

Demplot PMAAS dikembangkan menjadi model pertanian apabila mampu menunjukkan tingkat keberhasilan dan produktivitas yang optimal.

“Demplot-demplot ini berdasarkan penjelasan dari BSIP akan terus dikembangkan dan menjadi model utama apabila tingkat keberhasilannya semakin tinggi,” ujarnya.

Hanif mengatakan pemanfaatan teknologi pertanian merupakan bagian dari upaya pemerintah, pemerintah daerah, dan petani memperkuat swasembada padi serta beras.

Ia mengingatkan Pemerintah Kota Sukabumi untuk menghitung kebutuhan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) berdasarkan jumlah penduduk, kemampuan produksi petani, dan kebutuhan konsumsi daerah.

Baca juga: Kemenko Pangan siapkan 10 langkah percepat swasembada kedelai

Baca juga: Kemenko Pangan: PSEL Serang Raya siap dibangun tahun ini

“Cadangan Pangan Pemerintah harus dihitung dengan detail, seberapa besar jumlah penduduk, seberapa besar petani menghasilkan padi, sisanya harus disiapkan dalam bentuk Cadangan Pangan Pemerintah,” ucapnya.

Hanif menambahkan penguatan swasembada pangan tidak hanya dilakukan pada padi, tetapi juga komoditas lain melalui kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani dan dunia usaha.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Sukabumi Bobby Maulana mengatakan penerapan teknologi pada demplot PMAAS mempercepat proses penebaran benih.

Menurut dia, sebanyak 85 kg benih untuk lahan satu hektare dapat ditebar dalam waktu sekitar setengah hari dengan menggunakan teknologi pertanian.

“Kota Sukabumi walaupun tidak luas, tetapi inovasi kami tidak terbatas. Melalui PMAAS, penebaran benih menggunakan teknologi sehingga satu hektare dengan 85 kilogram benih bisa diselesaikan hanya dalam waktu setengah hari,” ujar Bobby.

Ia mengatakan demplot tersebut juga dilengkapi sejumlah teknologi untuk mengurangi gangguan hama dan burung menjelang panen.

Produktivitas padi Kota Sukabumi saat ini tercatat sekitar 6,7 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang disebut berada pada kisaran 5,5 ton per hektare.

Bobby berharap penerapan PMAAS dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat cadangan pangan daerah meskipun Kota Sukabumi hanya memiliki luas wilayah sekitar 48 kilometer persegi.

Baca juga: Kemenko Pangan petakan solusi hambatan peternak susu menuju swasembada

Baca juga: Menko Zulhas tegaskan KNMP upaya penguatan kesejahteraan nelayan RI

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |