Wamenekraf dorong penguatan IP lokal hadapi perkembangan zaman

5 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar menyoroti penguatan Intellectual Property (IP) lokal dalam menghadapi perkembangan zaman.

Menurut Menekraf Irene, kunci memenangkan persaingan global terletak pada peremajaan ide dan pemanfaatan kearifan lokal sebagai source code yang harus terus berevolusi agar tetap menjadi gaya hidup yang relevan.

"Kuncinya adalah terus berevolusi melalui pengembangan hak kekayaan intelektual ke berbagai lini industri, sehingga sebuah jenama memiliki daya tawar yang jauh lebih tinggi dan keberlanjutan bisnis yang kuat di tengah gempuran zaman," ujar Wamenekraf Irene dalam keterangan resminya yang diterima, Kamis.

Baca juga: Kemenekraf dorong pegiat ekraf startup nasional naik kelas

Dalam hal ini, Wamenekraf Irene mendorong penguatan IP lokal Bakpia Pathok 25 serta Dagadu sebagai jenama yang sudah melintasi zaman.

Bakpia Pathok 25 selaku pionir kuliner legendaris sejak 1948 dan Dagadu Jogja sebagai jenama fesyen ikonik sejak 1994 telah menjadi ikon wajib bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta.

Wemenekraf Irene menyoroti gerai jenama Dagadu Alun-Alun Utara sebagai ikon lokal dalam keberhasilannya menjaga relevansi selama 30 tahun melalui kekuatan narasi budaya yang dikemas secara modern.

Baca juga: Menekraf dukung Kendari jadi pusat ekraf baru di Asia Pasifik

“IP yang kuat adalah source code yang membuat kita menang di kancah global, di mana Dagadu telah membuktikan bahwa desain autentik yang berangkat dari hati tetap bisa relevan dan modern,” tutur dia.

Wamenekraf juga menyoroti kekuatan jenama Bakpia Pathok 25 terletak pada konsistensi menjaga warisan dan eksklusivitas rasa, sekaligus mendorong transformasinya menjadi entitas IP yang kolaboratif.

Dengan mengintegrasikan narasi sejarah Yogyakarta ke dalam desain kemasan artistik dan strategi digital, produk ini tidak lagi sekadar komoditas pangan, melainkan media romansa budaya yang relevan bagi generasi muda.

Baca juga: Wamenekraf: Ekonomi kreatif beri ruang perempuan untuk berkembang

“Pangan lokal ini adalah sekeping kenangan autentik khas Jogja yang tak boleh kehilangan jati dirinya meski diproduksi dalam jumlah besar. Lewat sinergi kreatif, mereka dapat merawat gairah tradisi agar terus berlanjut dan memikat hati masyarakat masa kini," ujarnya.

Wamenekraf Irene dalam kunjungannya ke dua jenama lokal khas Yogyakarta tersebut bertujuan agar kedua identitas lokal tersebut tetap relevan dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri aslinya.

Menurut dia, Yogyakarta adalah gudangnya kreativitas, dan dua jenama ini Bakpia Pathok 25 serta Dagadu, merupakan pilar yang membuktikan bahwa produk lokal bisa bertahan melintasi dekade.

Baca juga: Menekraf tekankan pentingnya penguatan ekosistem ekonomi kreatif

“Namun, tantangan ke depan bukan hanya soal produksi, melainkan bagaimana mengelola kekayaan intelektual atau IP agar tetap relevan dan memiliki nilai tambah di pasar global yang semakin dinamis," kata dia.

Lebih lanjut, Wamenekraf Irene berharap kesuksesan Bakpia Pathok 25 dan Dagadu dapat menjadi inspirasi bagi pelaku ekraf muda di Yogyakarta untuk lebih berani dalam membangun dan mematenkan kekayaan intelektual mereka sejak dini.

Baca juga: Pelaku ekonomi kreatif harus mampu jawab tantangan kelola keuangan

Pewarta: Sri Dewi Larasati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |