Moskow (ANTARA) - Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas meminta Pemerintah Spanyol mengerahkan petugas militer guna membantu pengamanan di daerah perbatasan dengan Maroko akibat lonjakan kedatangan migran di kota otonom Spanyol yang berada di Afrika Utara itu.
Dalam beberapa hari terakhir, Ceuta menghadapi peningkatan tajam jumlah migran dari Maroko yang berusaha memasuki kota tersebut dengan berenang dan berjalan kaki.
"Kami menuntut agar pasukan dan lembaga keamanan negara diperkuat, serta agar tentara dikerahkan untuk menjamin keutuhan perbatasan dan keselamatan warga," kata Vivas.
Pihak berwenang di Ceuta juga menuntut agar perbatasan wilayahnya dengan Maroko ditutup, lalu dinyatakan sebagai keadaan darurat nasional.
Baca juga: Lebih dari 1.000 imigran serbu Ceuta, Spanyol
Sementara itu, organisasi serikat pekerja kepolisian Spanyol, Justicia Policial (Jupol), menuding Maroko menggunakan aksi migrasi sebagai bentuk "tekanan politik" terhadap Ceuta.
"Maroko telah memanfaatkan celah peluang dalam strategi perang hibridanya, sekali lagi, menggunakan tekanan migrasi terhadap Ceuta sebagai alat pemerasan politik," menurut pernyataan Jupol di platform X.
Spanyol dan Maroko pun sepakat mengatur pemindahan terhadap semua migran yang telah masuk ke wilayah Ceuta secara ilegal, untuk dikembalikan ke wilayah Maroko sesegera mungkin, demikian dilaporkan kantor berita internasional Spanyol, EFE.
Dalam 10 hari terakhir, dilaporkan hampir 1.500–2.000 orang telah tiba dan memasuki wilayah Ceuta.
Baca juga: 20.000 migran menyeberang ke kota otonom Spanyol di Afrika Utara
Penerjemah: Uyu Septiyati Liman
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































