Virus penjaga kehidupan, terapi fag di tengah resistensi antibiotik

1 hour ago 4
Terapi klinis membutuhkan fag yang aman, stabil, terkarakterisasi, dan tidak membawa gen toksin atau gen resistensi antibiotik

Jakarta (ANTARA) - Bagi sebagian orang, antibiotik sering dianggap "obat sakti". Begitu demam atau batuk tak kunjung reda, mereka langsung mencari resep lama, membeli tanpa konsultasi, atau menyimpan stok untuk "jaga-jaga".

Survei WHO dan Kementerian Kesehatan menunjukkan praktik seperti ini masih marak di Indonesia: antibiotik sering dikonsumsi tanpa resep, tidak sesuai dosis, atau dihentikan sebelum waktunya.

Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa dari 22,1 persen masyarakat yang menggunakan antibiotik oral dalam 1 tahun terakhir, 41 persen di antaranya memperoleh antibiotik tanpa resep.

Kebiasaan ini ternyata punya konsekuensi besar. Bakteri yang terbiasa "dihajar" dengan antibiotik secara sembarangan menjadi kebal.

Di bangsal rumah sakit, akibatnya tampak nyata. Seorang pasien datang dengan luka yang sulit sembuh. Antibiotik diberikan, kultur bakteri diperiksa. Lalu muncul kabar yang membuat dokter, keluarga, dan pasien sama-sama cemas: bakteri itu resisten. Obat yang selama puluhan tahun menjadi tameng kedokteran modern tidak lagi bekerja sekuat dulu.

Krisis itu bernama resistensi antimikroba atau AMR (antimicrobial resistance), yaitu keadaan ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit tidak lagi mempan terhadap obat antimikroba.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan AMR bakteri menyebabkan 1,27 juta kematian global pada 2019 dan berkontribusi pada 4,95 juta kematian. Di Indonesia, diperkirakan terdapat 133.800 kematian yang berasosiasi dengan AMR pada 2019 sehingga menempatkan Indonesia pada posisi ke-78 dengan angka kematian tertinggi (terstandar usia) terkait AMR dari 204 negara.

Kementerian Kesehatan RI bersama WHO telah meluncurkan Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Sektor Kesehatan 2025-2029. Arah besarnya jelas. Deteksi harus diperkuat, antibiotik harus digunakan secara bijak, dan edukasi publik harus diperluas. Pendekatan One Health harus menghubungkan kesehatan manusia, hewan, pangan, dan lingkungan.

Baca juga: BPOM nyatakan "perang" melawan AMR, jangan beli antibiotik tanpa resep

Pemburu bakteri sunyi

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |