Istanbul (ANTARA) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengirimkan versi revisi dari kerangka perdamaian yang diusulkan kepada Iran dengan persyaratan yang lebih ketat, di tengah upaya berkelanjutan untuk mencapai kesepakatan yang dapat mengakhiri perang,
Harian The New York Times pada Sabtu (30/5), mengutip tiga pejabat yang mengetahui masalah tersebut, melaporkan bahwa Trump mengubah sejumlah bagian dalam rancangan perjanjian tersebut dan mengirimkannya kembali ke Teheran untuk dipertimbangkan. Laporan itu tidak merinci perubahan yang dilakukan dalam dokumen tersebut.
Para pejabat mengatakan Trump menyampaikan kekhawatiran mengenai ketentuan yang dapat mencakup pencairan aset-aset Iran yang dibekukan, isu yang sebelumnya juga ia kritik terkait perjanjian nuklir tahun 2015 yang dinegosiasikan di bawah pemerintahan mantan presiden AS Barack Obama.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Trump semakin frustrasi dengan lambatnya respons Iran terhadap proposal-proposal AS yang dinegosiasikan melalui perantara, termasuk pejabat dari Pakistan.
Seorang pejabat mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa proposal yang telah direvisi itu dimaksudkan untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran dan mendorong penerimaan atas kerangka kesepakatan yang sebelumnya telah diajukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, untuk disetujui.
Namun, laporan itu mencatat bahwa komunikasi dengan pimpinan tertinggi Iran terbukti sulit dilakukan, sehingga berpotensi menyebabkan penundaan lebih lanjut jika perubahan tambahan pada dokumen yang digambarkan sebagai nota kesepahaman tersebut.
Isu-isu yang lebih sensitif, termasuk masa depan program nuklir Iran, akan dibahas dalam putaran negosiasi berikutnya, menurut laporan tersebut.
Situs berita Axios mengutip pejabat AS, melaporkan bahwa Trump telah diberi tahu bahwa Iran mungkin memerlukan waktu hingga tiga hari untuk memberikan tanggapan.
“Mereka benar-benar berada di dalam fasilitas bawah tanah dan tidak menggunakan email,” ujar pejabat tersebut.
“Akan ada kesepakatan. Seberapa cepatnya, kita lihat nanti. Kami bersedia menunggu agar presiden mendapatkan apa yang dimintanya. Bisa seminggu, bisa kurang, bisa juga lebih lama. Pada pergantian pekan, kami berharap akan ada sesuatu,” tambahnya.
Adapun pada Jumat, Trump menggelar pertemuan selama dua jam dengan para penasihat seniornya di Ruang Situasi Gedung Putih untuk membahas upaya mengakhiri perang. Namun, tidak ada pengumuman yang disampaikan kepada publik setelah pertemuan tersebut.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Trump ingin perjelas transfer uranium dalam kesepakatan dengan Iran
Baca juga: AS lumpuhkan kapal kargo di Teluk Oman saat menuju pelabuhan Iran
Baca juga: Iran: AS belum cabut blokade laut meski Trump berkata sebaliknya
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































