Gaza (ANTARA) - Di jalanan Gaza City yang disesaki puing-puing, Woroud Abdul Hadi berjalan melewati etalase-etalase toko yang tertutup rapat. Aroma roti yang baru selesai dipanggang, yang biasanya menawarkan kenyamanan sehari-hari, kini tak lagi tercium. Sebagai gantinya, aroma tajam dari debu dan keputusasaan justru kini menguar dari tempat itu.
"Di sini, roti adalah kehidupan. Namun sekarang, itu pun sudah tidak ada lagi," kata Abdul Hadi (35), seorang ibu lima anak, dengan suara bergetar. "Yang lebih buruk lagi, saya tidak punya tepung untuk memberi makan anak-anak saya."
Penderitaan yang serupa banyak ditemui di seluruh Gaza. Semua toko roti yang didukung oleh Program Pangan Dunia (World Food Program/WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang berjumlah 25 toko, telah ditutup, demikian menurut pengumuman badan itu pada Selasa (1/4). Penutupan akibat blokade perbatasan berkepanjangan oleh Israel ini menghentikan pengiriman bahan bakar dan tepung, sehingga melumpuhkan kemampuan kelompok-kelompok bantuan untuk mengisi kembali pasokan makanan yang kian menipis.
Krisis semakin memburuk sejak Israel kembali melancarkan operasi udara dan darat pada 18 Maret, yang kian membuat keluarga-keluarga yang sudah terputus dari bantuan kemanusiaan harus kehilangan tempat tinggal.
Harga tepung melonjak hingga 100 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.588) untuk satu karung berisi 25 kilogram. Harga ini mustahil dijangkau oleh sebagian besar warga di daerah kantung yang miskin itu. Keluarga-keluarga yang putus asa terpaksa menggiling biji-bijian kering atau memanggang kentang sebagai alternatif sementara yang hanya memberikan sedikit nutrisi. Di Beit Lahia, Gaza utara, Wafaa Abu Hajir, seorang ibu dari tujuh anak, menatap panci berisi sayuran rebus. "Bagaimana kami bisa hidup tanpa roti?" tanyanya
"Kita sedang menyaksikan kolapsnya jalur-jalur kehidupan paling mendasar," kata Amjad al-Shawa, kepala Jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gaza. "Ratusan ribu orang kini menghadapi kerawanan pangan, tanpa ada cara untuk mendapatkan kebutuhan pokok."
Bagi warga Gaza, ketiadaan roti, yang merupakan makanan pokok sehari-hari, menandakan titik kritis yang berbahaya. Para pejabat Palestina memperingatkan tentang "kemunduran yang belum pernah terjadi sebelumnya" pada kondisi kehidupan.
"Anak-anak saya bertanya mengapa tidak ada roti, tetapi saya tidak punya jawaban," kata Abdul Hadi. "Roti adalah satu-satunya sumber harapan kami. Kini, itu pun telah hilang."
Di Beit Lahia, Gaza utara, Wafaa Abu Hajir, seorang ibu dari tujuh anak, menatap panci berisi sayuran rebus. "Bagaimana kami bisa hidup tanpa roti?" tanyanya. Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Gaza pada 18 Maret, menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 2.000 lainnya, dalam sebuah serangan yang melanggar gencatan senjata yang rapuh serta kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas.
"Saya tidak bisa memberi tahu anak-anak saya apa yang akan kita makan besok," tuturnya. "Bantuan tidak datang. Perbatasan ditutup. Kami kelaparan."
Abdel Nasser al-Ajrami, kepala Asosiasi Toko Roti Gaza, memperingatkan "ancaman nyata bencana kelaparan."
"Penderitaan kemanusiaan di Gaza telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata al-Shawa, seraya menekankan perlunya membuka jalur perbatasan dan mengirimkan bantuan dengan segera.
Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Gaza pada 18 Maret, menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 2.000 lainnya, dalam sebuah serangan yang melanggar gencatan senjata yang rapuh serta kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas
Serangan tersebut kembali menjerumuskan Gaza ke dalam pertumpahan darah setelah jeda singkat dalam konflik selama 17 bulan yang telah menewaskan sekitar 50.000 jiwa di daerah kantong yang berpenduduk sekitar 2 juta jiwa itu. Bagi banyak warga di Gaza, serangan itu menghancurkan harapan akan adanya jeda dari siklus perang yang tak kunjung usai.
Pewarta: TXinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2025