Tinggalkan laut demi ikan air tawar

1 week ago 4

Batam (ANTARA) - "Sekarang sudah tidak ada kepikiran ke laut lagi," kata Abbas, warga Pulau Karas, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu.

Di pulau kecil itu, yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai nelayan, ucapan Abbas terdengar tak biasa.

Abbas memang pernah melaut. Namun, pekerjaan itu sudah ditinggalkannya sejak sekitar dua tahun lalu.

"Untuk melaut harus menempuh jarak jauh, dengan biaya besar dan risiko besar," katanya.

Hasil tangkapan yang tidak pasti mendorongnya untuk beralih profesi. Bukan ikan laut lagi yang dia incar, tetapi ikan air tawar yang dia besarkan di kolam-kolam terpal.

Pulau Karas berada di Kecamatan Galang, Kota Batam, dan bisa ditempuh selama 30 menit dengan kapal tradisional dari dermaga Tanjung Banun di ujung utara Pulau Rempang.

Perlu waktu lagi untuk menempuh perjalanan darat melewati jalan tak beraspal dan kawasan hutan, untuk mencapai lokasi budi daya ikan air tawar milik Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Anak Karas Kecil yang diketuai Abbas.

Baca juga: KKP dukung budi daya ikan bioflok untuk pemberdayaan desa

Di balik rerimbunan pohon, 30 kolam terpal berjajar di atas lahan setengah hektare yang cukup jauh dari permukiman warga. Di sanalah kelompok itu membesarkan lele dan nila, setelah Abbas belajar budi daya ikan air tawar di Tanjung Balai Karimun dan Bintan.

Dalam satu kali panen, Pokdakan Anak Karas Kecil rata-rata mendapatkan sekitar 200 kilogram lele dari 22 kolam terpal tradisional. Namun jika kondisi kolam mendukung dan tidak ada penyakit, mereka bisa menghasilkan 300 hingga 500 kilogram. Produksi mereka kemudian dijual kepada pengepul di Sembulang.

Dengan harga jual lele saat itu yang mencapai Rp24.000 per kilogram, Abbas dan kawan-kawannya bisa mengantongi uang hingga Rp12 juta sekali panen. Setelah disisihkan sebagian untuk pakan dan biaya operasional, sisa penghasilan dipakai untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

"Insya Allah sudah mencukupi," kata Abbas, yang mengaku keturunan Melayu.

Editor: Anton Santoso
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |