Tim Ekspedisi Patriot kembangkan budi daya ikan di Pulau Simeulue

1 day ago 2

Banda Aceh (ANTARA) - Tim Ekspedisi Patriot (TEP) dari IPB University bersama Pemerintah Kabupaten Simeulue mengkaji pengembangan budi daya perikanan air tawar dan marikultur di kawasan transmigrasi Pulau Simeulue, Provinsi Aceh.

Pimpinan TEP Irzal Efendi di Simeulue, Minggu, mengatakan budi daya ikan air tawar penting untuk memperkuat ketersediaan sumber protein bagi masyarakat Pulau Simeulue.

"Sebagai wilayah kepulauan, pasokan ikan di Pulau Simeulue pada waktu tertentu dapat menghadapi kendala, terutama saat cuaca ekstrem pada musim barat dan musim peralihan. Budi daya ikan air tawar ini penting memperkuat ketersediaan sumber protein masyarakat Pulau Simeulue," katanya.

TEP merupakan program Kementerian Transmigrasi yang mengirim sarjana, magister, doktor, dan profesor muda dari berbagai perguruan tinggi ke kawasan transmigrasi melakukan penelitian, pendampingan, serta aksi nyata mendorong pertumbuhan ekonomi para transmigran.

Ia mengatakan program budi daya perikanan air tawar dan marikultur tersebut nantinya diharapkan tidak sekadar menjadi proyek percontohan, tetapi sebagai langkah membangun mata rantai ekonomi baru berbasis potensi perikanan lokal di wilayah kabupaten kepulauan tersebut.

Pengembangan itu merupakan tindak lanjut hasil kajian TEP IPB University pada 2025. Hasil kajian tersebut kini mulai diterjemahkan ke dalam riset aksi berskala usaha tani.

"Hasil kajian TEP IPB University, komoditas lele dan nila dinilai memiliki prospek pasar yang cukup kuat di Simeulue," kata Irzal Efendi.

Irzal Efendi mengatakan pengembangan lele dirancang secara terintegrasi mulai dari pembenihan, pendederan hingga pembesaran. Teknologi yang digunakan antara lain kolam dan bak bulat berbahan terpal.

"Kami juga merencanakan penggunaan induk unggul yang didatangkan dari Banda Aceh serta pengembangan pakan secara mandiri," katanya.

Selain budidaya air tawar, kata Irzal Efendi, sektor kelautan di Simeulue juga menjadi perhatian penting dalam program tersebut, terutama pengembangan lobster. Perairan Simeulue selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan dalam rantai pasok benih bening lobster (BBL).

Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan lebih jauh agar nilai ekonominya tidak berhenti pada komoditas mentah, tetapi dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat setempat.

Pengembangan yang ditawarkan adalah pendederan lobster hingga ukuran sekitar 10-50 gram per ekor. Pengembangan budi daya juga dinilai relevan dengan perubahan kebijakan terkait perdagangan BBL.

Teknologi land-based aquaculture memungkinkan kegiatan pendederan dilakukan di darat menggunakan bak dengan sistem resirkulasi atau recirculating aquaculture system (RAS).

"Sementara di laut, pengembangan dapat dilakukan melalui keramba jaring apung, jaring tenggelam maupun keramba jaring dasar laut. Dan ini membuka peluang bagi Simeulue menjadi kawasan produksi komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi," kata Irzal Efendi.

Staf Ahli Bupati Simeulue Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Kasirman menyambut baik pengembangan budi daya perikanan air tawar serta lobster.

"Kami berharap pengembangan budidaya lobster dan ikan air tawar tidak berhenti sebagai proyek percontohan, tetapi berkembang menjadi mata rantai ekonomi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat," katanya.

Ia mengatakan pengembangan budi daya perikanan tersebut bisa menjadi kran ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, terutama di kawasan transmigrasi di Pulau Simeulue.

"Kami berharap pengembangan kawasan transmigrasi bukan hanya memindahkan pusat kegiatan ekonomi ke wilayah baru, tetapi masyarakat perlu dibekali pengetahuan, teknologi dan kelembagaan agar mampu mengelola sumber daya secara mandiri dan berkelanjutan," kata Kasirman.

Pewarta: M.Haris Setiady Agus
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |