Senja, cangkrukan, dan ingatan kota

12 hours ago 5
Ke depan, yang dibutuhkan bukan hanya lebih banyak festival, tetapi juga lebih banyak ruang yang memungkinkan warga bertemu, berinteraksi, dan merawat identitasnya sendiri

Surabaya (ANTARA) - Ketika langit Surabaya perlahan berubah menjadi kanvas jingga di atas Tugu Pahlawan, ruang yang biasanya dipahami sebagai monumen sejarah, tiba-tiba menjelma menjadi panggung kehidupan yang hangat.

Tikar-tikar digelar, suara tawa bersahutan, aroma kuliner tradisional menguar, dan cangkrukan khas Suroboyoan kembali menemukan rumahnya di ruang publik yang sarat makna sejarah.

Fenomena “Senja Budaya” di kawasan itu bukan sekadar agenda perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733, melainkan potret bagaimana kota besar mencoba merawat ingatan kolektifnya melalui cara yang lebih cair dan inklusif.

Dalam dua hari pelaksanaan HJKS, kawasan Tugu Pahlawan yang biasanya identik dengan upacara dan wisata sejarah formal, berubah menjadi ruang interaksi sosial yang terbuka bagi lintas usia.

Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan konsep yang memadukan seni pertunjukan, kuliner tradisional, hingga permainan rakyat. Transformasi ini menandai pergeseran penting dalam cara kota membaca ruang publik, dari sekadar objek monumental menjadi ruang hidup yang berdenyut bersama warganya.

Di banyak kota dunia, pendekatan serupa telah lama menjadi strategi revitalisasi ruang sejarah. London, misalnya, menghidupkan kawasan museum dengan festival malam terbuka, sementara Kyoto merawat distrik bersejarahnya melalui festival kuliner dan pertunjukan jalanan.

Surabaya, kini bergerak ke arah yang sama, menjadikan Tugu Pahlawan bukan hanya simbol masa lalu, tetapi juga laboratorium sosial masa kini.

Anak-anak bermain permainan tradisional di Tugu Pahlawan, Surabaya, Sabtu (30/5/2026). Senja jingga menaungi ratusan warga yang berkumpul dalam suasana hangat pada gelaran Senja Budaya HJKS ke-733. (ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya)

Rasa ingatan

Di tengah keramaian Senja Budaya, kuliner menjadi pintu masuk paling kuat untuk membaca identitas kota. Kue rangin, putu, semanggi, hingga nasi jagung bukan sekadar makanan, tetapi fragmen ingatan yang perlahan tergerus oleh ekspansi kuliner modern dan budaya serba instan.

Kehadiran kembali makanan tradisional di ruang publik, seperti Tugu Pahlawan, menunjukkan adanya upaya sadar untuk merawat “ekonomi ingatan”, sebuah istilah yang merujuk pada bagaimana warisan budaya dapat menjadi sumber nilai ekonomi, sekaligus sosial.

Data dari berbagai kajian pariwisata budaya di Indonesia menunjukkan bahwa wisata berbasis pengalaman kuliner tradisional memiliki daya tarik tinggi bagi generasi muda, terutama Gen Z yang cenderung mencari pengalaman otentik dibanding sekadar konsumsi.

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |