Jakarta (ANTARA) - Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menyerukan semangat Indonesia tanpa kekerasan melalui penyelenggaraan Hari Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) 2026.
Ketua Panitia BKUPI Nyai Pera Sopariyanti menyampaikan gerakan ulama perempuan merupakan gerakan yang dibangun secara kolektif oleh berbagai simpul masyarakat sipil dan jaringan keulamaan perempuan.
“Gerakan Ulama Perempuan ini adalah gerakan kultural, gerakan spiritual, gerakan sosial, dan gerakan intelektual, yang gerakan ini dirawat oleh seluruh simpul oleh lima lembaga penyangga," kata Nyai Pera Sopariyanti di Jakarta pada Minggu.
Menurutnya, peringatan BKUPI menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali ingatan kolektif terhadap kiprah ulama perempuan dalam sejarah Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.
Baca juga: KUPI serukan perdamaian di Gaza-Palestina
Para ulama perempuan dinilai memiliki kontribusi besar dalam perjuangan melawan ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai bentuk penindasan terhadap masyarakat, terutama perempuan.
Ia menyebutkan kegiatan tersebut dihadiri sekitar 1.000 peserta secara luring maupun daring dari berbagai daerah di Indonesia serta jaringan internasional.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Musyawarah KUPI Nyai Badriyah Fayumi dalam Pidato Kebangkitan Ulama Perempuan menyoroti maraknya berbagai bentuk kekerasan yang terjadi di masyarakat, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan seksual di lembaga pendidikan, hingga kekerasan struktural terhadap masyarakat dan lingkungan.
Baca juga: KUPI: Ulama perempuan satukan komitmen bangun peradaban berkeadilan
“Ulama perempuan Indonesia mengutuk keras semua bentuk kekerasan fisik dan seksual yang terjadi di ranah keluarga, lembaga pendidikan, ruang publik, maupun kekerasan negara atau oleh aparat negara," kata Nyai Badriyah Fayumi
Nyai Badriyah pun mengajak masyarakat membangun budaya anti-kekerasan melalui kesadaran kolektif untuk menolak menjadi korban, pelaku, maupun pihak yang membiarkan kekerasan terjadi.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Pernyataan Sikap kolaborasi lembaga penyangga yang bertajuk “Risalah Cut Nyak Dien Menteng”.
Pernyataan ini, kata dia, dibacakan dalam momentum BKUPI 2026 dengan menegaskan komitmen Indonesia tanpa kekerasan dari ruang domestik hingga negara.
Baca juga: Kongres Ulama Perempuan Indonesia bakal diikuti 20 negara
Pewarta: Hana Dewi Kinarina Kaban
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































