Bangka Barat (ANTARA) - Personel Kepolisian Resor Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, melakukan pengamanan cengbeng (perayaan ziarah ke makam leluhur) di beberapa permakaman setempat.
"Dalam beberapa hari terakhir, banyak warga berdatangan ke permakaman untuk memanjatkan doa, salah satu kompleks permakaman warga keturunan Tionghoa yang luas, yaitu di Kampung Menjelang, Mentok," kata Kepala Seksi Humas Polres Bangka Barat Iptu Januardi di Mentok, Bangka Barat, Kamis.
Cengbeng merupakan tradisi rutin setiap tahun yang digelar warga keturunan Tionghoa untuk mendoakan arwah orang tua dan leluhur mereka.
"Polisi hadir untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi gangguan bagi peziarah sekaligus memastikan seluruh kegiatan bisa berjalan lancar dan aman," katanya.
Iptu Januardi menjelaskan bahwa pengamanan dengan menempatkan sejumlah personel di beberapa titik jalan menuju kompleks permakaman dan patroli keliling di lokasi tersebut.
Selain itu, petugas juga aktif mengatur lalu lintas kendaraan umum maupun peziarah yang hadir di lokasi itu agar tertib dan lancar sehingga tidak terjadi kemacetan maupun kecelakaan.
Ia berharap keberadaan polisi di tengah masyarakat bisa memberikan rasa aman sehingga peziarah dapat melaksanakan sembahyang dengan nyaman.
"Tradisi ziarah kubur warga keturunan masih berlangsung dalam beberapa hari ke depan," ujarnya.
Baca juga: Mengulik cengbeng, tradisi etnis Tionghoa menghormati leluhur
Baca juga: Polres Singkawang kerahkan personel amankan cengbeng
Polres Bangka Barat mengimbau seluruh warga untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban, serta segera melapor kepada pihak kepolisian jika terjadi potensi gangguan.
Pemerhati sejarah dan budaya Tionghoa di Bangka Suwito Wu dalam catatannya menyatakan bahwa tradisi cengbeng merupakan kebiasaan baik yang diwariskan leluhur. Bahkan, sampai saat ini masih dipegang teguh untuk dilaksanakan setiap tahun.
Tradisi memanjatkan doa untuk arwah orang tua atau leluhur tersebut, kata dia, merupakan bentuk bakti dan cinta.
"Mari jaga dan lestarikan tradisi ini sebagai bentuk bakti dan cinta kepada orang tua dan leluhur," ajaknya.
Diungkapkan oleh Suwito Wu bahwa tradisi ini punya nilai kebaikan yang bisa dipegang teguh dalam setiap diri manusia.
"Selama orang tua masih hidup, berbaktilah kepada mereka. Setelah mereka meninggal, rawatlah makamnya dengan tulus," katanya.
Pewarta: Donatus Dasapurna Putranta
Editor: D.Dj. Kliwantoro
Copyright © ANTARA 2025