Perusahaan Taiwan lihat Indonesia sebagai pasar potensial AI kesehatan

1 day ago 7

Taipei (ANTARA) - Perusahaan diagnostik berbasis kecerdasan buatan (AI) asal Taiwan melihat Indonesia sebagai pasar potensial untuk penerapan teknologi kesehatan berbasis AI, terutama untuk membantu menjangkau masyarakat di wilayah terpencil.

Chairman sekaligus CEO Acer Medical Inc. Allen Chia En Lien mengatakan Indonesia memiliki pasar yang besar dan banyak masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil sehingga teknologi AI dinilai dapat membantu memperluas akses layanan kesehatan.

Ia menilai Indonesia juga dapat menjadi pintu gerbang bagi perluasan pasar di kawasan ASEAN.

“Indonesia adalah pasar yang sangat besar dan ada begitu banyak orang. Dan ada banyak orang yang tinggal di pulau-pulau terpencil, jadi saya pikir masuk akal jika kita menerapkan AI untuk membantu,” ujar Allen.

Pernyataan itu disampaikan Allen dalam pertemuan dengan delegasi media dalam kerangka Kebijakan Baru ke Arah Selatan (New Southbound Policy/NSP) Taiwan di Kantor Acer Medical Inc. di Kota New Taipei, Sabtu.

Menurut dia, sejumlah bidang kesehatan yang berpotensi didukung teknologi AI antara lain diabetes, penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan, glaukoma, serta gangguan pergerakan.

“Saya pikir dasarnya adalah diabetes, penyakit yang berkaitan dengan proses penuaan, glaukoma, dan juga masalah pergerakan. Dan kami akan mencari mitra untuk promosi kesehatan,” tuturnya.

Untuk memasuki pasar baru, Allen mengatakan Acer Medical membutuhkan mitra, termasuk distributor.

“Kami sebenarnya lebih banyak berada di ASEAN. Kami belum masuk ke Eropa atau Amerika Serikat,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dana Kerja Sama dan Pembangunan Internasional (International Cooperation and Development Fund/ICDF) Taiwan Yu-Lin Huang mengatakan pengembangan AI berskala besar membutuhkan dukungan energi dan investasi yang sangat besar.

Huang mencontohkan kerja sama Taiwan dan Paraguay dalam pengembangan pusat komputasi AI yang memanfaatkan melimpahnya energi listrik berbasis tenaga air di Paraguay.

“Contoh Paraguay didasarkan pada pengaturan mereka untuk menyediakan 2 gigawatt tenaga listrik berbasis tenaga air untuk Taiwan yang akan diubah menjadi komputasi AI. Jadi, listrik merupakan komponen utama dari inisiatif tersebut,” katanya.

Menurut Huang, investasi untuk pengembangan komputasi AI juga sangat besar. Saat ini, pengembangan satu gigawatt kapasitas komputasi AI membutuhkan investasi lebih dari 30 miliar dolar AS.

Ia menuturkan Indonesia juga memiliki peluang untuk mengembangkan kerja sama di bidang teknologi tinggi.

“Untuk Indonesia, kita perlu memperkuat hubungan kita. Kami ingin bekerja sama dengan Anda di bidang teknologi tinggi karena Indonesia berkembang pesat. Namun, saya melihat kebutuhan akan lebih banyak investasi teknologi tinggi. Jadi, saya berharap kita dapat mengeksplorasi kerja sama teknologi semacam ini di masa depan,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin mengatakan teknologi AI dapat meningkatkan efisiensi layanan kesehatan dengan mempercepat diagnosis, mempersingkat waktu operasi, mengurangi masa rawat inap, serta menekan biaya pelayanan kesehatan.

Budi juga menilai inovasi dan teknologi medis merupakan elemen penting dalam membangun sistem kesehatan nasional yang efisien, inklusif, dan berkelanjutan.

Baca juga: Novo Nordisk dan AWS percepat penemuan obat dengan AI

Baca juga: PT MKA luncurkan ekosistem digital kesehatan berbasis AI

Pewarta: Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |