Perjuangan ayah memberi tempat berteduh di tengah musibah banjir

6 hours ago 3
Biar bagaimanapun, kami akan tetap berusaha menata kembali runtuhan ini menjadi rumah tinggal yang nyaman ketika ekonomi kami sudah membaik,

Tapanuli Tengah-Sumatera Utara (ANTARA) - Di bawah terik matahari siang yang menyengat, Ingotan Tua Draha berdiri mematung di atas timbunan lumpur yang dahulu adalah lantai rumahnya.

Sesekali ia menatap sisa bangunan yang hampir tak lagi dikenali. Rumah yang puluhan tahun menjadi tempat berteduh keluarganya kini terkubur pasir dan tanah, menyisakan kenangan yang sulit diselamatkan.

Banjir bandang dan longsor yang menerjang Kecamatan Tukka, Kelurahan Pasar Tukka, mengubah hidupnya dalam sekejap. Bersama istri dan delapan anaknya, ia kini harus memulai kembali dari nol.

Tak ada lagi rumah untuk pulang. Alih-alih tinggal di pengungsian, Ingotan memilih mengontrak rumah dengan biaya sendiri. Keputusan itu diambil bukan karena mampu, melainkan karena keadaan yang memaksa.

“Kalau di tenda tidak mungkin. Kami ini banyak, ada delapan anak saya,” katanya pelan, sambil mengusap keringat dengan handuk kecil.

Bagi seorang ayah, kenyamanan anak-anaknya menjadi pertimbangan utama. Ia tahu, hidup berdesakan di tenda bukanlah lingkungan yang layak bagi keluarga sebesar mereka, terlebih sebagian anaknya masih duduk di bangku sekolah.

Masalahnya, setelah bencana datang, penghasilan tak lagi mengalir seperti dulu. Aktivitas ekonomi yang menjadi sandaran hidup ikut lumpuh. Tabungan keluarga yang seharusnya menjadi pegangan masa depan kini perlahan habis untuk membayar biaya kontrakan.

Namun Ingotan tak melihatnya sebagai kerugian. Baginya, keselamatan dan rasa aman bagi istri serta anak-anak jauh lebih penting daripada sisa uang yang tersimpan.

Di Desa Pasar Tukka sendiri, fasilitas pengungsian masih terbatas. Tenda pun belum tersedia. Dalam situasi serba tidak pasti itu, ia dan istrinya sepakat mengambil risiko: mencari tempat tinggal sementara meski tanpa kepastian bantuan.

Harapan sempat datang ketika pemerintah menjanjikan bantuan uang sewa sebesar Rp600 ribu bagi penyintas. Akan tetapi, empat bulan setelah bencana berlalu, bantuan tersebut belum juga sampai.

“Katanya ada bantuan kontrak, tapi belum cair. Sudah lama kami tunggu,” ujarnya, menyimpan harap yang belum padam.

Baca juga: Rojali bangkit dari bencana banjir bandang lewat dapur umum Baznas

Baca juga: Suara hati pemuda Hutanabolon

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |