Perempuan dan anak paling rentan jadi korban perdagangan manusia

1 week ago 15

Ankara (ANTARA) - Perempuan dan anak perempuan terus menjadi korban terbesar perdagangan manusia di seluruh dunia, dengan eksploitasi seksual tetap menjadi bentuk pelecehan utama, menurut Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC).

Pada Hari Dunia Melawan Perdagangan Manusia pada 30 Juli, Anadolu meninjau temuan dari Laporan Global UNODC tentang Perdagangan Manusia 2024, yang menyoroti peningkatan tajam kasus perdagangan manusia dan meningkatnya risiko yang terkait dengan konflik, perubahan iklim, dan pengungsian paksa.

Perdagangan manusia, yang sering digambarkan sebagai bentuk perbudakan modern, melibatkan perekrutan, pengangkutan, atau penampungan orang melalui paksaan, penipuan, atau pelecehan untuk tujuan eksploitasi, termasuk kerja paksa, eksploitasi seksual, pernikahan paksa, dan kegiatan kriminal.

Laporan tersebut menemukan bahwa kasus perdagangan manusia yang terdeteksi meningkat sebesar 25 persen antara 2019 dan 2022, dengan peningkatan terbesar tercatat di Afrika sub-Sahara, Amerika Utara, dan Eropa Barat.

UNODC mengaitkan tren itu sebagian dengan meningkatnya pengungsian akibat konflik bersenjata dan bencana terkait iklim, yang membuat lebih banyak orang rentan terhadap eksploitasi.

Antara 2020 dan 2023, pihak berwenang mengidentifikasi 202.478 korban perdagangan manusia di seluruh dunia. Anak-anak menyumbang 38 persen dari semua korban, termasuk 22 persen perempuan dan 16 persen laki-laki. Di antara orang dewasa, 39 persen adalah perempuan dan 23 persen adalah laki-laki.

Perempuan dan anak perempuan sebagian besar diperdagangkan untuk eksploitasi seksual, masing-masing menyumbang 64 persen dan 28 persen dari korban yang mengalami bentuk pelecehan tersebut. Laki-laki dan anak laki-laki masing-masing mewakili 3 persen.

Kerja paksa tetap menjadi tujuan perdagangan manusia yang paling umum secara keseluruhan, yang memengaruhi 42 persen dari semua korban. Laki-laki dewasa menyumbang 47 persen dari kasus tersebut, diikuti oleh perempuan dewasa (23 persen), anak laki-laki (20 persen), dan anak perempuan (10 persen).

Menurut laporan tersebut, orang-orang dari 162 negara diperdagangkan ke 128 negara tujuan pada 2022, dengan warga negara Afrika membentuk 31 persen dari korban yang teridentifikasi.

Laporan tersebut menyatakan bahwa jaringan kriminal terorganisir tetap menjadi pendorong utama perdagangan manusia.

Analisis terhadap 942 kasus pengadilan yang melibatkan 3.121 pelaku menemukan bahwa 74 persen beroperasi sebagai bagian dari kelompok atau jaringan kriminal, sementara 26 persen bertindak secara independen.

Laki-laki menyumbang 70 persen dari pelaku perdagangan manusia yang dihukum, sementara perempuan mewakili 28 persen, menurut laporan tersebut.

Sumber: Anadolu

Baca juga: IOM peringatkan maraknya perdagangan manusia untuk penipuan daring

Baca juga: China klaim berhasil kendalikan perdagangan anak dan perempuan

Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |