Bener Meriah (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bener Meriah, Aceh berupaya semaksimal mungkin untuk membuka akses jalan tertutup di perkebunan warga yang terdampak bencana Sumatera.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bener Meriah Riswandika Putra mengatakan bahwa upaya tersebut akan terus dilakukan semaksimal mungkin mengingat saat ini Bener Meriah telah memasuki tanggal untuk panen kopi.
"Hari ini kami sudah masuk ke akses perkebunan, karena memang puncak masa panen juga sedang terjadi untuk panen kopi. Makanya kami wajib masuk juga ke akses-akses perkebunan dan pertanian," ujar Riswandika kepada pewarta, Sabtu.
Riswandika menjelaskan bahwa saat ini proses pembukaan akses memang cukup sulit mengingat kondisi keuangan kabupaten yang belum memperoleh pendanaan secara maksimal.
Oleh sebab itu, ia berharap pemerintah pusat akan kembali mengembalikan dana transfer ke daerah (TKD) sehingga bisa membantu proses pembukaan akses jalan yang masih terdampak bencana Sumatera.
Baca juga: Periset BRIN sebut ekoteologi jadi solusi trauma ganda pascabencana
"Perbaikannya tentu tidak maksimal, karena kondisi keuangan kami di daerah juga tidak maksimal, dan harapannya pemerintah atasan akan mengembalikan TKD yang disampaikan kemarin. Itu harapannya sehingga pergerakan kami, domain kami, pembagian tugas kami, pemerintah daerah di mana, pemerintah provinsi di mana, pemerintah pusat di mana, untuk perbaikan semua infrastruktur yang ada," ujar Riswandika.
Sebelumnya, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) melaporkan, total kebutuhan pendanaan rencana aksi kementerian/lembaga untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sebesar Rp56,3 triliun dengan total 2.108 kegiatan selama tiga tahun ke depan.
Baca juga: Dinkes Aceh Tamiang catat 14.143 kasus ISPA pascabanjir bandang
Baca juga: Gubernur Sumut motivasi masyarakat Tapteng tiga kali terdampak banjir
Pewarta: Fajar Satriyo
Editor: Triono Subagyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































