Jakarta (ANTARA) - Mantan Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita Moeloek mengajak pemerintah daerah mengintegrasikan inovasi skrining mata berbasis digital ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi anak usia sekolah guna memperkuat upaya deteksi dini gangguan penglihatan di Indonesia.
“Pemeriksaan mata berbasis digital ini bisa menjadi solusi efektif. Kita bisa memasukkannya dalam kegiatan rutin pemeriksaan kesehatan anak sekolah seperti program CKG yang sudah berjalan di banyak daerah,” kata dia dalam kegiatan uji publik inovasi pemeriksaan mata dan jiwa digital di Jakarta, Kamis.
Nila menjelaskan bahwa skrining kesehatan mata perlu menjadi bagian dari pemeriksaan dasar anak sekolah, sejalan dengan upaya pemerintah mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Adapun penelitian dari tim dokter mata Indonesia bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui sistem WHO Eyes berhasil mengembangkan inovasi digital yang memungkinkan pemeriksaan ketajaman penglihatan hanya dengan memanfaatkan telepon genggam.
Baca juga: Membaca di tempat gelap bisa merusak mata, mitos atau fakta?
“Teknologi ini dapat digunakan sebagai skrining awal tanpa perlu alat optik mahal. Dengan ponsel yang dimiliki hampir semua orang, pemeriksaan mata bisa dilakukan di sekolah-sekolah dan puskesmas dengan cepat dan murah,” katanya menjelaskan.
Hasil penelitian tim dokter bersama Satuan Penanggulangan Gangguan Refraksi (SPGR) menunjukkan bahwa sekitar 40 persen anak sekolah dasar di Jakarta mengalami gangguan penglihatan, meningkat signifikan dari 15 persen sebelum pandemi COVID-19.
Untuk itu, dia menekankan pentingnya dukungan lintas sektor, khususnya Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, serta sekolah-sekolah untuk implementasi skrining digital.
Adapun Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri telah menargetkan CKG menyasar sebanyak 1.997.082 anak pada tahun 2025/2026. Mereka terdiri dari pelajar jenjang SD sampai SMA, dengan rentang usia 7-17 tahun.
Baca juga: Nila Moeloek: Gangguan penglihatan anak meningkat pasca-pandemi
CKG Sekolah merupakan pembaruan (rebranding) dari skrining kesehatan usia sekolah dan remaja yang telah rutin dilaksanakan untuk usia 7-17 tahun (jenjang SD sampai dengan SMA sederajat) tiap tahun ajaran.
Program ini selain ditujukan untuk pelajar di sekolah, juga ditujukan untuk anak usia 7-17 tahun yang tidak bersekolah atau tidak mengakses pendidikan formal.
“Kita bisa mulai dari sekolah, dengan dukungan guru dan tenaga kesehatan. Jika anak-anak terdeteksi mengalami gangguan, bisa langsung ditindaklanjuti dengan pemberian kacamata atau rujukan ke dokter mata,” katanya.
Baca juga: Menkomdigi soroti masalah kesehatan mata anak akibat paparan gadget
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































