Nanning (ANTARA) - Seiring datangnya musim panen buah kelapa sawit, sebuah kendaraan pengangkut buah sawit dari China kini beroperasi di berbagai perkebunan di Indonesia. Kendaraan-kendaraan tersebut mampu melintasi medan yang kompleks dengan mudah serta membantu menekan biaya dan meningkatkan efisiensi dalam industri kelapa sawit lokal.
"Perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat luas, sering kali mencakup puluhan ribu hektare, dengan jalan yang sebagian besar berupa jalur kerikil sederhana. Peralatan tradisional cenderung mengalami tingkat keausan yang tinggi," ujar Huang Qinghua, asisten ketua perusahaan tersebut.
Dia mengatakan bahwa sebelumnya, peralatan transportasi di banyak perkebunan ASEAN bergantung pada merek dari Amerika Serikat dan Jepang, yang tidak sesuai dengan kondisi lokal dan biasanya mengalami kerusakan setelah sekitar satu setengah tahun penggunaan.
Foto dari udara yang diabadikan menggunakan drone pada 18 Maret 2026 ini menunjukkan pekerjaan mekanisasi penanaman tebu sedang berlangsung di Kota Qianjiang, Distrik Xingbin, Kota Laibin, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. ANTARA/Xinhua/Huang JunceSebaliknya, kendaraan pengangkut yang dikembangkan oleh China menunjukkan kemampuan adaptasi yang kuat dan efektivitas biaya yang tinggi, sehingga kian diminati di pasar ASEAN. "Peralatan kami mampu menangani medan kompleks di negara seperti Indonesia dan Malaysia dengan mudah. Menurut sejumlah klien perkebunan, biaya operasional dapat ditekan rata-rata hingga 37 persen, sementara produk kami juga lebih kompetitif dari segi harga," katanya.
Saat ini, produk tersebut telah menghasilkan nilai output lebih dari 50 juta yuan (1 yuan = Rp2.471) di pasar Indonesia dan Malaysia saja, dengan penjualan yang terus meningkat. Di Kota Laibin, Li Jinwei, kepala sebuah koperasi pertanian, menggunakan aplikasi seluler bernama "Didi Farm Machinery" yang dikembangkan oleh departemen pertanian daerah itu untuk dengan cepat merekrut empat operator mesin.
"Dahulu, pengelolaan pertanian mekanis untuk 3.000 mu lahan tebu membutuhkan pencarian operator dan koordinasi peralatan secara manual, yang memakan waktu dan tenaga," ujar Li. Kini, melalui platform tersebut, mesin dan petani dapat dipasangkan secara presisi. Satu mesin penanam dapat menyelesaikan pekerjaan seluas 15 hingga 20 mu per hari, setara dengan beban kerja 15 hingga 20 pekerja.
Mekanisasi pertanian di China mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2025, tingkat mekanisasi komprehensif untuk pengolahan lahan, penanaman, dan panen mencapai 76,7 persen. Jumlah drone pertanian melampaui 300.000 unit, dengan cakupan operasi tahunan melebihi 460 juta mu (1 mu = 0,0667 hektare).
Di Guangxi, salah satu daerah utama penghasil gula di China, tingginya proporsi medan berbukit dahulu membuat mekanisasi sulit dilakukan. Namun kini, mesin pertanian cerdas dan teknologi digital telah secara signifikan meningkatkan efisiensi pertanian.
Kendaraan yang diproduksi oleh Guangxi Hepu County Huilaibao Machinery Manufacturing Co., Ltd., itu dirancang dan dikembangkan secara mandiri. Kendaraan disesuaikan dengan kondisi operasional perkebunan sawit di negara-negara ASEAN seperti Indonesia dan Malaysia, serta mampu beradaptasi dengan baik di medan berbukit dan lingkungan kerja yang berat.
Di Kota Laibin, Li Jinwei, kepala sebuah koperasi pertanian, menggunakan aplikasi seluler bernama "Didi Farm Machinery" yang dikembangkan oleh departemen pertanian daerah itu untuk dengan cepat merekrut empat operator mesin. "Dahulu, pengelolaan pertanian mekanis untuk 3.000 mu lahan tebu membutuhkan pencarian operator dan koordinasi peralatan secara manual, yang memakan waktu dan tenaga," ujar Li. Kini, melalui platform tersebut, mesin dan petani dapat dipasangkan secara presisi. Satu mesin penanam dapat menyelesaikan pekerjaan seluas 15 hingga 20 mu per hari, setara dengan beban kerja 15 hingga 20 pekerja. Data menunjukkan bahwa pada 2025, nilai ekspor mesin dan komponen pertanian China mencapai 18,96 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.002), meningkat 25 persen secara tahunan (year on year/yoy). Selain itu, negara-negara Asia Tenggara telah menjadi pasar penting bagi ekspor mesin pertanian China, sementara peralatan cerdas seperti traktor dengan navigasi Beidou dan drone perlindungan tanaman telah memasuki lahan pertanian di negara-negara ASEAN.
Di sebuah basis tebu di Laibin, sensor yang dipasang di bawah tanah memantau nilai pH tanah, kelembapan, dan nutrisi sepanjang waktu. Sistem manajemen lahan digital memberikan rekomendasi secara waktu nyata (real-time), secara efektif mengatasi tantangan seperti pengendalian hama dan pengambilan keputusan produksi.
"Melalui survei tanah digital, pupuk dapat diberikan sesuai kebutuhan aktual," ujar Wang Zeping, peneliti dari Akademi Ilmu Pertanian Guangxi. Berkat teknologi pengelolaan presisi, penggunaan pupuk di beberapa lahan berkurang sebesar 15 persen, sementara hasil panen meningkat 200 kilogram per mu, sehingga mencapai penghematan biaya sekaligus pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

Pekerja memeriksa pertumbuhan tebu di Kota Qianjiang, Distrik Xingbin, Kota Laibin, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan, pada 18 Maret 2026. ANTARA/Xinhua/Guo Yifan Data menunjukkan bahwa pada 2025, nilai ekspor mesin dan komponen pertanian China mencapai 18,96 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.002), meningkat 25 persen secara tahunan (year on year/yoy). Selain itu, negara-negara Asia Tenggara telah menjadi pasar penting bagi ekspor mesin pertanian China, sementara peralatan cerdas seperti traktor dengan navigasi Beidou dan drone perlindungan tanaman telah memasuki lahan pertanian di negara-negara ASEAN
"Thailand memproduksi sejumlah besar buah tropis seperti durian, manggis, dan lengkeng, tetapi proses panen, penyortiran, dan analisis kualitas masih sebagian besar dilakukan secara manual. Kami sangat membutuhkan mesin canggih untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas," ujar Dares Kittiyopas, presiden Thai Society of Agricultural Engineering, dalam sebuah konferensi kerja sama mekanisasi pertanian China-ASEAN yang digelar pada akhir 2025.
Dares menambahkan tenaga kerja pertanian di Thailand terus berkurang, sehingga mendorong percepatan transformasi menuju mekanisasi dan pertanian cerdas. Negara tersebut memiliki permintaan tinggi terhadap peralatan perlindungan tanaman, traktor beserta suku cadangnya, serta mesin panen.
Seiring dengan terus meningkatnya tingkat mekanisasi pertanian di China, mesin produksi dalam negeri semakin memperluas kehadirannya di pasar luar negeri, menjadi sorotan penting dalam kerja sama pertanian China-ASEAN. Dengan kondisi geografis banyak negara ASEAN yang mirip dengan lanskap berbukit di China bagian selatan, daerah ini menawarkan potensi pasar yang luas bagi peralatan dari China.
Pewarta: Xinhua
Editor: Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































