Mataram (ANTARA) - Sabtu (21/3) pagi, langit Mataram terasa lebih teduh dari biasanya. Ribuan orang dengan pakaian terbaik berbondong-bondong menuju lapangan atau masjid, menjejakkan langkah yang sama menuju satu titik kesadaran, yakni kembali menjadi manusia yang lebih bersih.
Di halaman parkir pusat kota hingga lapangan pemerintahan, hamparan sajadah seolah menyatukan beragam latar belakang menjadi satu identitas kolektif sebagai umat yang baru saja menuntaskan perjalanan spiritual.
Idul Fitri di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak sekadar perayaan tahunan. Ia adalah ruang refleksi sosial yang mempertemukan nilai religius, budaya lokal, dan realitas pembangunan.
Momentum ini menghadirkan wajah NTB yang utuh bukan hanya sebagai daerah dengan potensi wisata dan sumber daya, tetapi juga sebagai masyarakat yang terus berproses mencari keseimbangan antara kesalehan pribadi dan tanggung jawab sosial.
Dalam konteks itulah, makna Idul Fitri menjadi relevan untuk ditelaah lebih dalam. Ia bukan hanya tentang kemenangan setelah menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang bagaimana nilai-nilai Ramadhan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari setelah gema takbir mereda.
Solidaritas sosial
Di berbagai titik di NTB, pelaksanaan shalat Idul Fitri tahun ini memperlihatkan satu hal yang menonjol yakni kuatnya dimensi kebersamaan.
Lapangan Bumi Gora, pusat kota Mataram, hingga masjid-masjid di Lombok Tengah dipenuhi oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak ada sekat sosial yang tampak. Semua berdiri dalam satu barisan, sejajar, menghadap arah yang sama.
Fenomena ini bukan sekadar ritual, melainkan representasi dari nilai kesetaraan yang menjadi inti ajaran Islam. Idul Fitri mengembalikan manusia pada fitrah, pada kondisi awal yang bersih, tanpa hierarki duniawi.
Dalam konteks NTB, nilai ini menemukan bentuknya dalam tradisi silaturahmi yang kuat, saling memaafkan, dan kebiasaan berbagi.
Baca juga: Lebaran di tengah isyarat alam
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































