Jakarta (ANTARA) - Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mendorong transformasi teknologi jauh melampaui perkembangan teknologi sebelumnya. Hanya dalam waktu dua tahun, hampir tidak ada bidang yang tidak tersentuh oleh sistem AI ini.
Persaingan antarnegara di bidang AI juga semakin ketat. Fenomena ini bisa dilihat dari bagaimana perusahaan AI generatif rintisan asal China, DeepSeek, berdampak besar pada pasar AS awal tahun ini.
Tidak seperti perkembangan jenis teknologi lain, gelombang AI dengan cepat menyentuh semua aspek kehidupan dan menciptakan ekosistem yang betul-betul baru dan penuh tantangan.
Dalam konteks pendidikan, gelombang AI dapat mempengaruhi sektor ini setidaknya dengan dua cara.
Pertama, mustahil bagi sistem pendidikan untuk tetap tertutup dari manfaat yang ditawarkan oleh AI.
Pada awal kemunculan AI, banyak negara memberlakukan larangan terhadap aplikasi semacam itu. Namun seiring berjalannya waktu, pendekatan yang berfokus pada penggunaan AI yang etis dan bertanggung jawab menjadi pilihan alternatif.
Dalam konteks ini, kurikulum pendidikan sebuah negara dituntut untuk menyesuaikan, dan inisiatif untuk meningkatkan literasi AI di kalangan guru dan akademisi sudah menjadi keniscayaan. Singkatnya, teknologi ini akan merestrukturisasi lingkungan pendidikan dan proses pembelajaran.
Cara kedua, transformasi ini berdampak pada sistem pendidikan berkaitan dengan perlunya menanggapi pergeseran di pasar tenaga kerja yang disebabkan oleh kemajuan teknologi.
Keahlian yang dibutuhkan untuk sebagian besar profesi dan posisi pekerjaan telah dan akan terus berubah. Sebagai gantinya, pekerjaan baru muncul dengan persyaratan keterampilan yang juga baru. Oleh karena itu, sistem pendidikan harus membekali Sumber Daya Manusia agar selaras dengan pergeseran ini.
Berangkat dari kecepatan transformasi ini, menjadi jelas betapa beratnya tantangan yang dihadapi sistem pendidikan hari ini. Lebih jauh, untuk mengimbangi transformasi ini lembaga pendidikan harus didorong untuk melampaui sistem pendidikan tradisional yang membatasi pembelajaran pada kelas dan tahun pendidikan. Sistem pendidikan kita harus bergeser dan menjadikan paradigma pembelajaran seumur hidup sebagai kebutuhan mutlak.
Jika sistem pendidikan gagal merespons tuntutan ini dengan cepat, ketidaksesuaian keterampilan di pasar tenaga kerja akan meningkat. Ketidaksesuaian tersebut akan berdampak negatif pada produktivitas dan pembangunan ekonomi.
Ketika sumber daya manusia tidak dilengkapi dengan keterampilan baru, pengangguran akan meningkat di satu sisi, sementara di sisi lain, pekerja yang ada akan dipaksa bekerja pada pekerjaan yang kurang membutuhkan keterampilan dan akibatnya bergaji lebih rendah.
Sebagai dampaknya, kelas menengah yang sudah menyusut akan menghadapi kerugian lebih lanjut. Ketimpangan sosial yang melebar akan menyebabkan ketidakpuasan masyarakat yang lebih besar. Hasil ini akan memiliki efek tidak langsung tambahan pada sistem pendidikan. Karena ketika kelas menengah terus terkikis, kemampuannya untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas akan berkurang, yang selanjutnya melemahkan kesetaraan kesempatan dalam sistem pendidikan.
Baca juga: 'Asisten AI' tingkatkan kualitas SDM Indonesia melalui inovasi
Langkah-langkah perlindungan
Menurut Laporan The Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum, mulai tahun 2025 hingga 2030 akan terjadi pergeseran pada ketrampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Laporan tersebut menyoroti bahwa keterampilan teknologi akan menjadi kebutuhan utama dalam transformasi ini.
AI dan big data menjadi dua kompetensi yang tumbuh paling cepat, menempati peringkat teratas dalam daftar ketrampilan yang dibutuhkan dunia kerja. Dengan kata lain, di semua sektor utama, keterampilan AI dan big data diproyeksikan akan mengalami peningkatan permintaan yang substansial, meskipun pada tingkat yang bervariasi.
Lebih jauh, laporan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan harapan tertinggi untuk melakukan perubahan keterampilan mendasar, dengan proyeksi pergeseran sebesar 36 persen, terbesar di Asia Tenggara.
Oleh karena itu, untuk mengurangi dampak negatif AI pada pasar tenaga kerja dan untuk memperkuat tenaga kerja kita dalam menyelaraskan keterampilan, ada beberapa langkah-langkah signifikan yang harus diambil.
Pertama, menyiapkan regulasi untuk meningkatkan literasi teknologi di pendidikan dasar dan menengah sekaligus memastikan bahwa aplikasi kecerdasan buatan digunakan secara etis dan bertanggung jawab. Pelatihan literasi AI bagi para guru dan tenaga pengajar juga menjadi keharusan, karena anak-anak didik kita sudah banyak menggunakan aplikasi AI generatif seperti ChatGPT. Kecepatan generasi baru dalam menggunakan teknologi AI harus diimbangi tenaga pengajar yang juga terampil.
Selain itu, program pelatihan ini harus terus diperbarui dan dikembangkan. Kurikulum pelatihan guru seperti Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan sejenisnya harus segera ditinjau ulang dan dirumuskan kembali untuk mengintegrasikan peluang dan risiko AI. Langkah ini untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan di antara para pendidik masa depan.
Di Indonesia, beberapa perguruan tinggi sudah membuka program studi AI, seperti di UPH, UNAIR, ITS dan lainya. Bahkan, di bawah kepemimpinan Abdul Mukti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, inisiatif ini sudah diperluas. Mata pelajaran AI dan coding telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan dasar dari kelas 4 sampai kelas 6 Sekolah Dasar.
Ini adalah langkah brilian, karena literasi AI dan big data telah menjadi kebutuhan mendasar hari ini. Di sisi lain, pangsa keterampilan terkait AI yang dibutuhkan dalam peran pekerjaan yang ada terus meningkat.
Tanpa langkah proaktif seperti ini, kekuatan otomatisasi yang semakin meningkat akan melemahkan ketahanan SDM, meningkatkan risiko perpindahan pekerjaan, dan mendorong mereka ke peran yang kurang terampil (dan bergaji rendah).
Baca juga: BRIN sebut Indonesia punya SDM hebat untuk kembangkan AI
Penguatan pendidikan vokasi
Langkah kunci kedua adalah menguatkan pendidikan kejuruan. Pentingnya pelatihan kejuruan kini diakui secara luas, karena sistem pendidikan kejuruan yang kuat memfasilitasi transisi sekolah-ke-pekerjaan secara langsung dan sangat signifikan mengurangi angka pengangguran kaum muda. Oleh karena itu, sebagai respons terhadap gelombang transformasi yang didorong oleh AI, kapasitas pendidikan kejuruan harus terus diperkuat.
Laporan Future of Jobs Report dari WEF mengategorikan ada lebih dari 2.800 keterampilan terperinci dalam Taksonomi Keterampilan Global dan menilai sejauh mana AI generatif dapat menggantikannya.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa AI saat ini memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk melakukan tugas-tugas yang memerlukan eksekusi fisik, penilaian yang baik, atau keterampilan praktis langsung. Ini menghadirkan keuntungan yang signifikan: posisi pekerjaan yang kurang rentan terhadap otomatisasi AI – setidaknya untuk saat ini – terutama terkait dengan pendidikan kejuruan.
Dengan demikian, sementara pendidikan kejuruan harus lebih diperkuat, pelatihan tersebut juga harus mengintegrasikan keterampilan terkait AI untuk memastikan ketahanan jangka panjang di angkatan kerja.
Saya melihat tantangan ini sudah dibaca dengan baik oleh pemerintah Indonesia. Dalam sebuah kesempatan, Mukti menekankan pentingnya pendidikan vokasi sebagai salah satu pilar utama pembangunan sumber daya manusia.
Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan keterampilan lulusan SMK yang relevan dengan kebutuhan industri dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Sebagai langkah penting ketiga, pembelajaran seumur hidup harus diakui sebagai prioritas strategis yang baru. Laporan Future of Jobs Report WEF menyoroti rasa ingin tahu dan pembelajaran seumur hidup sebagai keterampilan utama di masa yang datang, dengan kebutuhannya diproyeksikan meningkat hingga 50 persen.
Sementara sistem pendidikan berusaha untuk membekali individu dengan keterampilan yang diperlukan, laju perubahan yang cepat memperjelas bahwa pendidikan formal saja tidak akan cukup. Dengan demikian, pembelajaran seumur hidup sekarang penting untuk meningkatkan ketahanan tenaga kerja.
Akhirnya, terlepas dari semua langkah ini, beberapa kontraksi mungkin masih akan terjadi di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan. Untuk mengatasi tantangan ini, mekanisme transfer keterampilan harus ditetapkan melalui platform yang relevan dan selaras dengan pasar tenaga kerja yang menyediakan pelatihan jangka pendek dalam kerangka pembelajaran seumur hidup.
"Platform pengembangan dan pembaruan keterampilan" ini akan memungkinkan lulusan untuk dengan cepat memperoleh keterampilan baru dan beralih ke sektor pekerjaan yang banyak diminati, meningkatkan daya kerja mereka dan mengurangi risiko pengangguran yang berkepanjangan.
Selain itu, inisiatif ini akan memperluas kumpulan bakat dengan keterampilan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Baca juga: Kemnaker: Perlu SDM unggul hadapi teknologi "artificial intelligence"
Baca juga: Kemenkominfo siapkan regulasi hingga pengembangan SDM dorong adopsi AI
Baca juga: SDM dan digitalisasi solusi bangkitkan pariwisata saat pandemi
*) Ahmad Munji adalah Ketua Umum Koalisi Masyarakat Indonesia untuk Perbaikan Pendidikan, Alumnus program microcredential di University of Chicago, US.
Copyright © ANTARA 2025