Menhan Jepang tampik kritik China soal "militerisme baru"

6 hours ago 3

Tokyo (ANTARA) - Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi berjanji akan memperkuat kemampuan pertahanan negaranya dan kerja sama keamanan di kawasan Indo-Pasifik, seraya menampik kritik China yang menyebut langkah tersebut sebagai bentuk "militerisme baru".

Berbicara dalam forum keamanan Shangri-La Dialogue di Singapura, Minggu, Menhan Koizumi mengatakan lingkungan keamanan regional semakin menantang di tengah adanya tekanan ekonomi dan militer, serta meningkatnya persaingan di bidang siber, antariksa, dan informasi.

"Batas antara masa damai dan situasi darurat semakin tidak jelas," katanya.

Koizumi pun membela program modernisasi pertahanan Jepang, termasuk rencana revisi dokumen-dokumen utama keamanan nasional pada akhir tahun ini, serta investasi di bidang kecerdasan buatan, sistem tanpa awak, kemampuan siber, dan teknologi antariksa.

"Ada sebuah negara yang memiliki persenjataan nuklir dalam jumlah besar dan pesawat pengebom strategis. Jepang tidak memiliki senjata semacam itu. Namun, Jepang justru dicap sebagai militerisme baru. Bukankah itu aneh?" kata Koizumi yang tampaknya merujuk pada kritik China terhadap Jepang.

Baca juga: China dituding sebagai ancaman Indo-Pasifik, ini jawaban tegas Beijing

Dia menegaskan reputasi Jepang sebagai negara yang mencintai perdamaian sejak berakhirnya Perang Dunia II tidak akan dirusak oleh apa yang disebutnya sebagai tuduhan palsu.

Koizumi juga memperingatkan bahwa pembangunan militer yang tidak transparan dan tindakan tanpa tujuan jelas akan menjadi penyebab ketidakpercayaan dan salah perhitungan. Dia pun menambahkan Jepang akan menjalankan pembaruan pertahanannya dengan "tingkat transparansi yang tinggi".

Pada saat yang sama, Koizumi menegaskan Tokyo tetap berkomitmen untuk berdialog dengan Beijing meskipun ada perbedaan pandangan yang masih berlangsung di antara kedua negara tetangga tersebut.

Hubungan Tokyo dan Beijing memburuk ke tingkat terendah dalam beberapa tahun terakhir setelah Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi pada November lalu mengisyaratkan Jepang dapat memberikan dukungan kepada Amerika Serikat jika China menyerang Taiwan, pulau yang memiliki pemerintahan sendiri dan dinilai Beijing sebagai provinsi membangkang serta dapat disatukan kembali dengan paksa jika diperlukan.

Koizumi mengungkapkan kekecewaannya karena tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Menteri Pertahanan (Menhan) China Dong Jun dalam forum tersebut.

Baca juga: Jepang-Filipina siap bentuk pakta intelijen di tengah kecemasan China

Menhan Dong tidak menghadiri Shangri-La Dialogue untuk kedua kalinya secara berturut-turut, sementara China hanya mengirim delegasi tingkat lebih rendah.

Koizumi menyoroti gangguan terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz, dengan mengatakan pentingnya menjaga jalur-jalur laut strategis tetap terbuka dan aman.

Dia juga menekankan semakin eratnya kerja sama keamanan yang dijalin Jepang dengan Amerika Serikat, Australia, Filipina, Inggris, dan negara-negara Asia Tenggara.

Koizumi mengatakan Jepang akan mengambil peran lebih besar dalam kerja sama peralatan dan teknologi pertahanan setelah melonggarkan pembatasan ekspor senjata pada April lalu.

"Perpecahan melemahkan daya tangkal. Persatuan memperkuat daya tangkal," ujar Koizumi.

Sumber: Kyodo

​​​​​​​Baca juga: Jepang dan Filipina akan bahas pakta intelijen di tengah isu China

Penerjemah: Primayanti
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |