Mengenal istilah doom spending di kalangan Gen Z

1 day ago 2

Jakarta (ANTARA) - Istilah doom spending belakangan ramai digunakan untuk menggambarkan kebiasaan menghabiskan uang sebagai pelarian dari stres, kecemasan atau ketidakpastian terhadap masa depan.

Fenomena ini banyak dikaitkan dengan Gen Z yang hidup di tengah kemudahan transaksi digital dan paparan media sosial. Doom spending bukan sekadar kebiasaan boros, melainkan perilaku konsumtif yang dapat muncul sebagai respons emosional ketika seseorang merasa kondisi finansial atau masa depannya tidak pasti.

Apa Itu doom spending?

Secara sederhana, doom spending merupakan perilaku membeli barang atau menggunakan uang secara impulsif karena seseorang merasa lebih baik menikmati uang saat ini daripada mengkhawatirkan masa depan.

Istilah tersebut menjadi populer di media sosial dan kemudian banyak digunakan dalam pembahasan mengenai kebiasaan keuangan generasi muda. Perilaku ini dapat berupa membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, sering berbelanja daring, makan di luar secara berlebihan, bepergian atau melakukan pembelian sebagai bentuk self-reward.

Dengan demikian, seseorang tidak selalu melakukan doom spending karena memiliki banyak uang. Sebaliknya, kecemasan terhadap kondisi ekonomi justru dapat menjadi salah satu pemicunya.

Baca juga: Siasat mengatasi "doom spending" menurut psikolog

Mengapa Gen Z rentan mengalaminya?

Salah satu faktor yang berkaitan dengan doom spending adalah ketidakpastian mengenai kondisi ekonomi dan masa depan. Media sosial juga dapat memperkuat dorongan tersebut karena pengguna terus melihat gaya hidup, tren dan aktivitas konsumtif orang lain.

Penelitian mengenai doom spending pada Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa pendapatan, media sosial dan gaya hidup menjadi faktor yang berkaitan dengan perilaku tersebut. Penelitian itu melibatkan 384 responden Gen Z di Kota Tegal.

Psikolog juga menilai tekanan sosial, rasa tidak aman atau insecure dan paparan ajakan berbelanja dari influencer dapat membuat seseorang membeli barang yang sebenarnya belum menjadi kebutuhan.

Kondisi finansial Gen Z

Kekhawatiran mengenai uang memang menjadi persoalan yang cukup menonjol di kalangan generasi muda.

Survei Deloitte 2025 terhadap Gen Z dan milenial menemukan lebih dari 80 persen responden menyebut kondisi keuangan sehari-hari dan masa depan finansial sebagai faktor yang berkontribusi terhadap stres atau kecemasan. Sebanyak 48 persen Gen Z dalam survei tersebut juga mengatakan tidak merasa aman secara finansial pada 2025.

Sementara itu, studi Bank of America 2025 terhadap 915 responden Gen Z di Amerika Serikat menunjukkan 33 persen mengaku mengalami stres terkait keuangan. Dari kelompok tersebut, 52 persen menyebut ketidakstabilan ekonomi sebagai salah satu penyebabnya.

Namun, data tersebut tidak berarti seluruh Gen Z melakukan doom spending. Justru survei Bank of America menunjukkan 72 persen Gen Z yang disurvei mengambil langkah untuk memperbaiki kesehatan finansial mereka dalam 12 bulan terakhir.

Ciri-ciri doom spending

Perilaku doom spending dapat terlihat dari sejumlah kebiasaan, antara lain:

  • Membeli barang secara spontan ketika sedang stres atau cemas.
  • Berbelanja sebagai cara untuk memperbaiki suasana hati.
  • Membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
  • Mengutamakan kesenangan saat ini dibandingkan kebutuhan finansial jangka panjang.
  • Tetap berbelanja meskipun mengetahui kondisi keuangan sedang tidak sehat.
  • Menggunakan fasilitas pembayaran seperti paylater untuk memenuhi keinginan konsumtif.


Kemudahan transaksi digital dapat membuat perilaku tersebut semakin mudah dilakukan. Penelitian mengenai fenomena doom spending di Indonesia juga mengaitkannya dengan perkembangan media sosial dan platform belanja daring.

Apa bedanya dengan belanja biasa?

Tidak setiap pembelian barang yang menyenangkan dapat disebut doom spending.

Membeli pakaian, makanan atau melakukan perjalanan setelah membuat anggaran dan memastikan kebutuhan utama telah terpenuhi merupakan bagian dari pengelolaan keuangan yang normal.

Masalah muncul ketika seseorang menggunakan belanja sebagai pelarian emosional dan melakukannya secara berulang tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial. Dalam kondisi tersebut, kesenangan yang diperoleh dari belanja dapat berubah menjadi masalah ketika tagihan menumpuk atau tabungan semakin berkurang.

Dampak doom spending

Jika dilakukan terus-menerus, doom spending dapat membuat kondisi keuangan menjadi tidak sehat. Pengeluaran yang tidak direncanakan dapat mengurangi kemampuan seseorang untuk menabung, membayar kebutuhan rutin atau menyiapkan dana darurat.

Selain persoalan keuangan, perilaku tersebut juga dapat membentuk siklus emosional. Seseorang merasa stres, kemudian berbelanja untuk mendapatkan kesenangan sementara. Setelah menyadari pengeluarannya terlalu besar, muncul kembali rasa bersalah atau kecemasan yang kemudian dapat mendorong perilaku serupa.

Karena itu, doom spending sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai persoalan "boros", tetapi juga sebagai perilaku yang dapat berkaitan dengan kondisi psikologis dan tekanan finansial.

Cara menghindari doom spending

Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi kebiasaan belanja impulsif.

Pertama, bedakan antara kebutuhan dan keinginan sebelum melakukan transaksi. Kedua, buat batas pengeluaran bulanan untuk kebutuhan hiburan atau self-reward.

Ketiga, beri jeda sebelum membeli barang yang tidak direncanakan. Misalnya, tunggu beberapa jam atau satu hari sebelum melakukan pembayaran. Cara ini dapat membantu seseorang memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya dibeli karena dorongan sesaat.

Keempat, kurangi paparan konten yang terus mendorong konsumsi jika media sosial menjadi salah satu pemicu. Terakhir, tetap prioritaskan dana darurat, tabungan dan kewajiban finansial sebelum menggunakan uang untuk keperluan konsumtif.

Pada akhirnya, doom spending bukan istilah untuk melabeli seluruh Gen Z sebagai generasi boros. Fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai pola konsumsi yang dapat muncul ketika tekanan emosional, ketidakpastian finansial dan kemudahan berbelanja bertemu. Dengan mengenali pemicunya, seseorang dapat lebih bijak mengatur uang dan menghindari keputusan finansial yang dilakukan secara impulsif.

Baca juga: Menelaah tren "doom spending" Gen Z sebagai motor penggerak ekonomi

Baca juga: Kiat agar anak muda Jakarta tak berbelanja impulsif kala stres

Pewarta: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |