Membaca manusia sebelum membantu

6 days ago 17
Jika Brida Step mampu membuktikan bahwa bantuan yang tepat dimulai dari pemahaman yang tepat terhadap setiap individu, maka inovasi ini bukan hanya berpeluang mengurangi distorsi bantuan di Surabaya.

Surabaya (ANTARA) - Selama bertahun-tahun, persoalan kemiskinan di Indonesia tidak selalu berhenti pada besarnya anggaran bantuan. Tantangan yang lebih rumit justru terletak pada ketepatan sasaran dan kecocokan bentuk intervensi.

Tidak sedikit bantuan modal usaha berakhir menjadi aset yang terbengkalai. Gerobak dagang yang semula diharapkan menjadi awal kemandirian berubah menjadi barang yang tidak dimanfaatkan.

Pelatihan kerja tidak selalu melahirkan tenaga kerja baru. Bahkan bantuan sosial yang dirancang untuk mengurangi kemiskinan terkadang hanya menyelesaikan persoalan dalam hitungan hari.

Fenomena tersebut memperlihatkan satu persoalan mendasar, bahwa kemiskinan bukanlah kondisi yang seragam. Di balik angka statistik terdapat manusia dengan karakter, pengalaman hidup, kemampuan, motivasi, serta tantangan yang berbeda-beda.

Karena itu, pendekatan yang sama kepada semua warga berisiko melahirkan apa yang dapat disebut sebagai distorsi bantuan. Bantuan hadir, tetapi manfaatnya tidak optimal.

Kesadaran itulah yang mulai diterjemahkan Pemerintah Kota Surabaya melalui inovasi Brida Step atau Surabaya Talent Entrepreneurial Path. Program yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) itu menawarkan pendekatan yang berbeda. Sebelum bantuan diberikan, warga terlebih dahulu dipetakan berdasarkan kapasitas psikologis, motivasi, serta potensi pengembangannya.

Jika selama ini pertanyaan yang diajukan adalah "bantuan apa yang akan diberikan", Brida Step mencoba membalik cara berpikir menjadi "siapa yang akan menerima dan apa yang benar-benar dibutuhkan". Pergeseran sederhana itu sesungguhnya menyimpan perubahan paradigma yang cukup besar dalam tata kelola kebijakan sosial.


Membaca potensi

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat kemiskinan Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penurunan angka tersebut tidak otomatis menghapus persoalan efektivitas program pemberdayaan.

Di banyak daerah, pemerintah masih menghadapi tantangan bagaimana memastikan bantuan mampu mengubah penerima menjadi warga yang mandiri.

Surabaya tampaknya mencoba menjawab tantangan itu melalui riset. Brida bersama Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) melakukan penelitian awal terhadap 448 responden yang tersebar di 30 kecamatan. Hasilnya memperlihatkan bahwa warga miskin memiliki karakteristik yang sangat beragam.

Baca juga: Kemiskinan berhenti di sekolah

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |