Washington (ANTARA) - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, Kamis, mengkritik Norwegia setelah Oslo mencabut izin ekspor yang terkait dengan pengiriman sistem Rudal Serang Angkatan Laut (Naval Strike Missile/NSM) yang ditujukan untuk program modernisasi militer Malaysia.
"Saya menyampaikan keberatan keras Malaysia dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Jonas Gahr Store mengenai keputusan sepihak dan tidak dapat diterima Norwegia untuk mencabut izin ekspor sistem Rudal Serang Angkatan Laut (NSM) dan sistem peluncurnya, yang konon untuk melindungi keamanan Norwegia," katanya di akun X.
Norwegia dilaporkan membenarkan langkah tersebut dengan alasan keamanan nasional, alasan yang digambarkan Anwar sebagai "sepihak dan tidak dapat diterima."
"Malaysia telah menghormati setiap kewajiban berdasarkan kontrak ini sejak 2018: dengan cermat, setia, dan tanpa keraguan," kata Anwar.
"Norwegia tampaknya tidak merasa berkewajiban untuk memberikan kepada kami kesopanan dan demonstrasi itikad baik yang sama," katanya.
Perselisihan tersebut berpusat pada akuisisi sistem rudal anti-kapal NSM oleh Malaysia sebagai bagian dari program modernisasi Kapal Tempur Pesisir (Littoral Combat Ship/LCS) negara tersebut, komponen kunci dari strategi angkatan laut jangka panjang Kuala Lumpur.
Anwar memperingatkan bahwa pembatalan tersebut dapat secara signifikan mengganggu kesiapan pertahanan Malaysia dan mengubah dinamika keamanan regional yang lebih luas.
"Saya telah menjelaskan bahwa keputusan ini akan memiliki konsekuensi serius bagi kesiapan operasional pertahanan Malaysia dan program modernisasi Kapal Tempur Pesisir," katanya.
"Ini pasti akan membawa dampak yang lebih luas bagi keseimbangan regional," katanya.
Pemimpin Malaysia itu juga mempertanyakan keandalan pemasok pertahanan Eropa secara lebih luas, dan menyatakan bahwa langkah tersebut dapat merusak kepercayaan dalam kemitraan strategis di masa depan.
"Kontrak yang ditandatangani adalah instrumen yang serius. Itu bukan confetti yang dapat dihamburkan dengan cara yang sembarangan," kata Anwar.
"Jika pemasok pertahanan Eropa berhak untuk mengingkari kontrak tanpa hukuman, nilai mereka sebagai mitra strategis akan hilang begitu saja," katanya.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Raja Norwegia tinggalkan Malaysia setelah jalani perawatan
Baca juga: Malaysia perbaiki sistem pengadaan aset militer pascaisu korupsi
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































