Lestari: Publikasi ilmiah jangan jadi komoditas

1 week ago 5

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengingatkan akademisi agar tidak menjadikan publikasi ilmiah sebagai komoditas dan tetap mengedepankan integritas serta etika dalam proses penelitian dan penulisan karya ilmiah.

Lestari menyampaikan hal tersebut saat membuka Bimbingan Teknis Penulisan Publikasi Jurnal Internasional yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat.

"Publikasi ilmiah saat ini sudah seperti komoditas. Kita tidak bisa menutup mata, memasukkan hasil penelitian ke jurnal internasional merupakan keharusan administratif. Tetapi kita harus pastikan jurnal yang diterbitkan bukan sekadar mengejar tenggat dan asal masuk. Ini yang harus kita benahi bersama," katanya.

Menurut Lestari, peningkatan kapasitas peneliti perlu terus dilakukan agar publikasi ilmiah Indonesia mampu bersaing secara bermartabat di tingkat internasional.

Ia menilai ekosistem publikasi ilmiah global masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari akses terhadap jurnal bereputasi, biaya publikasi, hingga penguatan posisi Indonesia dalam wacana ilmiah dunia.

Lestari juga mengingatkan potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan generatif dalam proses penulisan maupun penelaahan karya ilmiah sehingga integritas akademik harus tetap dijaga.

Menurut dia, peningkatan jumlah publikasi tidak selalu mencerminkan peningkatan kualitas ilmu pengetahuan apabila hanya berorientasi pada pemenuhan syarat administratif.

Karena itu, ia menekankan etika harus menjadi bagian dari seluruh proses penelitian dan penulisan karya ilmiah agar publikasi yang dihasilkan benar-benar berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.

"Penggunaan etika harus hadir dari awal, bukan setelah masalah terjadi," ujarnya.

Ia berharap bimbingan teknis tersebut menjadi upaya memperkuat budaya publikasi ilmiah yang berkualitas dan berintegritas.

Lestari mengatakan publikasi yang baik lahir melalui proses yang dirawat secara berkelanjutan, bukan dikerjakan sekadar memenuhi tenggat kenaikan jabatan.

"Bimbingan teknis BRIN adalah bentuk kehadiran negara untuk mendampingi, bukan mengatur. Mari bergandengan tangan, memperluas kapasitas, bukan menyerahkan publikasi ilmiah kita kepada kepentingan instan," kata Lestari.

Baca juga: Kemenag: Publikasi ilmiah PTKI harus beri dampak nyata

Baca juga: Akademisi RI-Malayasia kolaborasi riset guna perkuat publikasi ilmiah

Baca juga: Jalan tengah kontroversi komoditas ilmu pengetahuan

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |