Mexico City (ANTARA) - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, Jumat (12/6), mengumumkan usulan untuk merestrukturisasi ekonomi nasional pulau itu dan mendefinisikan kembali peran Kuba di pasar global di tengah sanksi ekonomi dan energi AS.
Langkah-langkah yang diterapkan oleh pemerintahan Donald Trump terhadap Kuba telah meningkat, mendorong pemerintah yang dipimpin Partai Komunis untuk mencari solusi di luar model ekonomi tradisionalnya, termasuk insentif untuk bisnis wisata, investasi asing, dan impor teknologi terbarukan.
Dalam konferensi pers tertutup, pemimpin Kuba lebih dulu mengumumkan serangkaian usulan yang menurutnya akan menentukan jalan negara ke depan sebagai tanggapan terhadap "kebijakan yang sangat agresif oleh pemerintah Amerika Serikat."
“Saya percaya justru itulah yang perlu kita diskusikan: Bagaimana kita akan mengatasi tantangan-tantangan ini dan bagaimana kita sudah mengatasinya?” kata pemimpin Partai Komunis dan presiden tersebut.
“Amerika Serikat tidak dapat memaafkan fakta bahwa, setelah semua tekanan maksimum yang telah mereka berikan, revolusi masih ada dan negara ini terus berfungsi. Mereka sendiri tidak percaya pada narasi yang terus-menerus mereka ulangi tentang Kuba sebagai negara gagal,” katanya lagi.
Diaz-Canel terutama berfokus pada perlunya konfigurasi ulang ekonomi terencana terpusat, landasan model ekonomi pulau itu dan warisan Revolusi Kuba. Dia mengatakan langkah pertama adalah memberikan wewenang yang lebih besar kepada pemerintah kota.
"Pemerintah kota harus memiliki wewenang untuk mengimpor dan mengekspor dan tidak bergantung pada rencana pusat. Pemerintah kota harus mampu mengelola pendapatan mata uang asing dan mempromosikan serta mengawasi investasi asing langsung di wilayah mereka sesuai dengan kepentingan lokal," katanya.
Berdasarkan usulan tersebut, negara akan mendesentralisasikan kekuasaan, memungkinkan pemerintah kota untuk menentukan perusahaan dan pelaku ekonomi mana yang beroperasi di wilayah yurisdiksi mereka.
Reformasi tersebut juga akan memperluas partisipasi ekonomi oleh pelaku swasta dari luar negeri. Secara khusus, Díaz-Canel berpendapat bahwa perlu diciptakan mekanisme yang memfasilitasi investasi di Kuba dari warga Kuba yang tinggal di luar pulau.
“Mendorong investasi asing langsung memerlukan pemberian hak penggunaan lahan, penghapusan hambatan, peningkatan penggunaan rekening bank, pengurangan jangka waktu persetujuan, dan memastikan respons yang lebih cepat di seluruh proses investasi,” kata Diaz-Canel.
“Kami telah membahas dua bentuk investasi spesifik di Kuba: investasi oleh penduduk di luar negeri dan investasi oleh warga Kuba yang tinggal di luar negeri, sehingga dalam kondisi yang sama mereka dapat berpartisipasi sebagai pelaku ekonomi bersama investasi asing langsung dan perusahaan milik negara,” katanya.
Presiden juga mengindikasikan bahwa pemerintahnya sedang mengupayakan kedaulatan pangan dengan mendorong pasar pertanian lokal dan memperluas akses ke mata uang asing melalui pasar valuta asing.
Menanggapi kebutuhan energi pulau itu, yang menurutnya telah sangat terpengaruh oleh "blokade kriminal" yang diberlakukan oleh AS, Diaz-Canel menguraikan langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi eksternal.
"Kami terus mempromosikan penggunaan sumber energi terbarukan di setiap wilayah dan setiap sektor. Kami berupaya menarik sebanyak mungkin perusahaan asing yang dapat menawarkan sistem fotovoltaik di pasar domestik kepada lembaga negara, masyarakat, dan bisnis non-negara," katanya.
"Kami ingin memperbanyak peluang yang tersedia bagi kami sehingga kami semakin tidak bergantung pada pembangkit listrik berbasis bahan bakar, terutama bahan bakar fosil," katanya lagi.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Presiden Kuba sebut sanksi AS akan perparah ketegangan bilateral
Baca juga: Kuba sebut EAEU dan BRICS jadi alternatif tatanan dunia Barat
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Arie Novarina
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































