Klaten (ANTARA) - Komisi VII DPR RI meminta komitmen dari industri air minum dalam kemasan (AMDK) agar dapat menyeimbangkan antara dampak ekonomi dari usaha tersebut namun kelestarian lingkungan tetap terjaga dan kesejahteraan masyarakat meningkat.
Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII ke PT Tirta Investama Klaten Evita Nursanty di Klaten, Jawa Tengah, Kamis mengatakan dalam rangka pengawasan terhadap industri AMDK, disusun panitia kerja industri AMDK.
“Tujuan panja adalah bagaimana hal-hal yang selama ini menjadi permasalahan, ada regulasi yang harus diperbaiki,” katanya.
Ia mengatakan dalam hal ini diperlukan komitmen dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh perusahaan ketika mereka membangun industri di suatu tempat.
“Bahwa mereka harus menjamin adanya pemanfaatan penjagaan kelestarian lingkungan dan konservasi. Jadi itu wajib, apa yang diambil, pengembaliannya bukan hanya seimbang tapi lebih banyak dari apa yang sudah diambil,” katanya.
Pada kesempatan itu, ia memberikan apresiasi kepada PT Tirta Investama yang sudah berkomitmen untuk menjaga kelestarian lingkungan, salah satunya dengan membuat sumur resapan.
Selain itu juga proses daur ulang penggunaan plastik yang sudah dilakukan oleh perusahaan air mineral merek Aqua tersebut.
Meski demikian, ia berharap ke depan ada penyeragaman yang juga dilakukan oleh perusahaan air mineral yang lain.
“Tadi teman-teman (anggota tim panja) sudah mengangkat, bahwa masalah yang kita hadapi saat ini adalah sampah plastik. Sementara itu daur ulang tidak mencukupi, sehingga kita masih butuh impor. Ini kan kita harus cari solusi apakah karena regulasi yang sulit, apakah investasi yang belum dapat," kata Evita.
Pihaknya ingin tidak hanya ke Aqua tetapi juga kepada seluruh industri AMDK di Indonesia agar ikut berperan serta untuk menyelesaikan masalah yang saat ini mengemuka.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo mengatakan kedatangan panja tersebut menjadi langkah strategis untuk memastikan dampak dari keberadaan PT Tirta Investama betul-betul dirasakan oleh masyarakat.
“PT Tirta Investama yang mengambil air di Kabupaten Klaten agar dampaknya benar-benar bisa dirasakan oleh masyarakat. Dari Komisi VII sudah menyampaikan banyak hal yang mendukung kami pemda, harapannya apa yang disampaikan oleh Komisi VII ini bisa dijalankan oleh PT Tirta investama. Mulai dari kebencanaan, sebelum bicara Aceh, Sumatera, di Klaten sebetulnya ada lho setiap tahun wilayah yang terdampak kekeringan. Bagaimana Aqua bisa mengambil peran di situ,” katanya.
Ia berharap ke depan perusahaan tersebut dapat berperan lebih aktif di berbagai sektor, di antaranya infrastruktur, pariwisata, dan perekonomian.
“Jadi semua bisa didukung. Saat ini Klaten posisinya sedang menanjak, kalau ada dukungan dari pihak ketiga pasti akan lebih baik,” katanya.
Mewakili PT Tirta Investama, Direktur Komunikasi Korporat Aqua Vera Galuh Sugijanto mengatakan perusahaan tersebut memiliki komitmen besar terkait dengan konservasi.
Pihaknya berkolaborasi dengan BRIN sejak 2021 untuk memvalidasi dampak positif pengelolaan air menggunakan metode Volumetric Water Benefit Accounting (VWBA).
Kerja sama ini bertujuan memastikan inisiatif konservasi Aqua seperti sumur resapan dan penanaman pohon dapat mengembalikan lebih banyak air ke alam daripada yang digunakan untuk produksi guna mencapai target Positive Water Impact 2030.
Dari sisi penggunaan kemasan plastik, pihaknya menggunakan galon guna ulang.
“Mengenai kualitas galon guna ulang, kami saat ini ada dua kemasan yakni polikarbonat dan PET (polyethylene terephthalate). Dua-duanya memenuhi standar keamanan yang sama dan juga dimonitor sampai kapan bisa digunakan kembali dan kapan kembali ke pabrik. Penggunaan galon guna ulang ini selain hemat energi juga hemat dalam penggunaan plastik,” katanya.
Sementara itu, pada kunjungan kerja spesifik tersebut, anggota Komisi VII DPR RI juga berkesempatan melihat secara langsung proses pengemasan air mineral di pabrik PT Tirta Investama.
Pewarta: Teguh Imam Wibowo/Aris Wasita
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































