Jakarta (ANTARA) - Produk olahan lele marinasi produksi usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) asal Bandung, Jawa Barat, menembus pasar Taiwan untuk pertama kalinya melalui ekspor perdana sebanyak 10,5 ton dengan nilai sekitar Rp400 juta.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ishartini, dikutip dari keterangan resmi di Jakarta, Senin, mengatakan keberhasilan tersebut didukung penerapan jaminan mutu dari hulu hingga hilir yang memenuhi persyaratan tujuan ekspor.
Ishartini menjelaskan komoditas lele Indonesia telah memenuhi skema sertifikasi mutu di sisi hulu melalui CBIB (Cara Budi daya yang Baik) dan CPIB (Cara Penangkapan Ikan yang Baik), serta Sertifikasi Kelayakan Pengolahan (SKP) dan Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) di sisi hilir.
“Sehingga otoritas kompeten di tempat atau negara tujuan mengakui kualitas produk dan memberikan persetujuan untuk masuk ke pasar mereka,” ujar Ishartini.
Ekspor perdana lele marinasi beku tersebut berlangsung di Pergudangan Ketapang, Kabupaten Bandung, pada 6 Agustus 2026. Produk tersebut diproduksi oleh PT Asha Nuova International.
Ishartini mengatakan lele marinasi menjadi salah satu produk perikanan Indonesia yang mulai diminati pasar global, seperti ikan nila.
Menurut dia, pengiriman ke Taiwan tersebut merupakan batch pertama dan volume ekspor berikutnya direncanakan meningkat hampir dua kali lipat menjadi 20 ton pada September 2026.
“Sudah dijadwalkan pada bulan depan (September 2026) menyusul produk dari ikan nila,” katanya lagi.
Kepala UPT Badan Mutu KKP Bandung Darwin Syah Putra mengatakan pihaknya terus mendorong peningkatan volume dan nilai ekspor produk olahan perikanan dari Jawa Barat, antara lain melalui penguatan produktivitas di sisi hulu.
Ia mengatakan program kampung budi daya tematik yang dijalankan KKP diharapkan dapat mendukung ketersediaan bahan baku perikanan, sementara unit pengolahan ikan (UPI) yang telah memiliki sertifikasi mutu diarahkan untuk dapat menampung produk UMKM perikanan di Jawa Barat.
Darwin menyebut sepanjang 2025, ekspor produk perikanan dari Jawa Barat mencapai 1.800 ton dengan nilai sekitar Rp42 miliar.
Dia menuturkan komoditas perikanan asal Jawa Barat yang telah diekspor, antara lain layur, cumi, tenggiri, sumpia udang, sotong, cunang, dan ikan nila ke sejumlah negara, termasuk Hong Kong, Filipina, Kanada, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Timor Leste, Amerika Serikat, Singapura, Malaysia, China.
Baca juga: KKP dukung budi daya ikan bioflok untuk pemberdayaan desa
Baca juga: DKP DIY optimalkan lahan milik kalurahan untuk budi daya lele dan nila
Aktivitas budi daya ikan lele di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































