Jakarta (ANTARA) - Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI Sodik Mudjahid menilai ajang penghargaan Zayed Award for Human Fraternity 2027 dapat menjadi momentum memperkuat ekosistem zakat, sekaligus memperluas pengakuan dunia terhadap kontribusi filantropi Islam Indonesia.
Sodik menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, pengusulan Indonesia dalam ajang tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk meraih penghargaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat sinergi antarlembaga zakat dan menampilkan kontribusi nyata gerakan filantropi Islam di tingkat global.
"Kita harus memanfaatkan peluang ini untuk memperkuat ekosistem zakat, infak, dan sedekah di Indonesia. Baznas siap mendukung penuh pengusulan ini, baik secara kelembagaan inklusif yang menaungi seluruh gerakan amil zakat maupun melalui pembuktian kontribusi nyata filantropi nasional bagi pembangunan manusia," katanya dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Senada dengan Sodik, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief mengatakan Indonesia memiliki modal kuat untuk menampilkan profil diplomasi kemanusiaan yang relevan di tingkat global. Hal ini menyusul capaian positif Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang meraih penghargaan tersebut pada 2023.
Menurut dia, ekosistem filantropi Islam di tanah air memuat nilai-nilai inklusivitas dan inovasi penanganan isu kemanusiaan yang sangat relevan dengan kriteria tim penilai global.
"Kita memiliki keunggulan pada aspek mainstreaming zakat yang melibatkan sinergi antara regulasi pemerintah dan gerakan masyarakat sipil. Narasi kolaborasi besar itu baik dalam respons bencana, penanggulangan kemiskinan, maupun keberlanjutan menjadi poin diferensiasi yang sangat kuat," ujarnya.
Hilman menyebut pengalaman Indonesia dalam mengelola filantropi Islam perlu ditampilkan sebagai kekuatan bersama. Hal itu sekaligus menjadi pembeda dari pencapaian NU dan Muhammadiyah yang sebelumnya meraih Zayed Award for Human Fraternity pada 2023.
"Indonesia harus membuktikan bahwa selain dua ormas tersebut, ekosistem perzakatannya juga sangat layak mendapat pengakuan dunia," ucap Hilman Latief.
Sementara, Ketua Umum Forum Zakat (FOZ) Wildhan Dewayana menyoroti keunggulan filantropi Indonesia terletak pada kemampuan lembaga-lembaga zakat berkolaborasi dalam menangani persoalan kemanusiaan, terutama saat terjadi bencana yang tetap solid di tengah heterogenitas masyarakat.
Ia menambahkan, berbagai pengalaman tersebut perlu dirangkai menjadi satu narasi bersama yang menunjukkan kontribusi nyata filantropi Islam Indonesia.
"Kunci utamanya terletak pada pembeda yang kuat dan khas Indonesia. Kita punya keunggulan modal kolaborasi di tengah keberagaman lembaga, resiliensi dan militansi amil saat menangani bencana di Ring of Fire, program pemberdayaan kemiskinan yang berdampak luas, serta transformasi tata kelola dalam mengoptimalkan potensi zakat nasional," tutur Wildhan.
Baca juga: Baznas hadirkan layanan konsumsi hingga beasiswa di Muktamar NU
Baca juga: Baznas gandeng pemda perkuat program pengentasan kemiskinan
Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor: Rini Utami
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































