Kementrans siap bantu petani karet tingkatkan produktivitas-pendapatan

8 hours ago 7
ini menjadi hal penting dan menjadi tanggung jawab kami agar bagi warga transmigrasi yang ada di kawasan transmigrasi atau di eks kawasan transmigrasi itu bisa meningkat pendapatannya, bisa sejahtera

Kutai Kartanegara, Kaltim (ANTARA) - Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengungkapkan Kementerian Transmigrasi (Kementrans) siap membantu petani karet meningkatkan produktivitas dan pendapatan.

"Petani karet ini jumlahnya sekitar 2,1 juta kepala keluarga seluruh Indonesia yang sebagian besar tersebar di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Sebagian besar berada di kawasan transmigrasi. Jadi ini menjadi hal penting dan menjadi tanggung jawab kami agar bagi warga transmigrasi yang ada di kawasan transmigrasi atau di eks kawasan transmigrasi itu bisa meningkat pendapatannya, bisa sejahtera," ujar Viva Yoga dalam acara Rembug Tani di Desa Sebuntal, Kecamatan Marangkayu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur pada Sabtu.

Untuk itu, lanjutnya, perlu ada kolaborasi dan sinergi dengan seluruh kementerian, terutama dengan kementerian teknis lainnya seperti Kementerian Pertanian, kemudian BRIN, Kementerian PU, agar pendekatan kebijakan yang komprehensif bisa dibuat dalam rangka meningkatkan produktivitas petani karet agar bisa meningkat pendapatannya dan bisa meningkat kualitas sadapan sehingga ada nilai tambah untuk itu.

Selain itu diperlukan juga proses industrialisasi yang berbasis kepada petani karet rakyat agar mereka juga memiliki nilai tambah untuk dapat berkembang dengan baik.

"Dari zaman dahulu, karet adalah komoditas primadona, sampai sekarang juga menjadi primadona karena karet sudah menjadi komoditas ekspor. Indonesia menjadi negara eksportir terbesar nomor dua setelah Thailand," kata Viva Yoga.

Baca juga: Kementrans revitalisasi 45 daerah untuk atasi ketimpangan wilayah

Baca juga: Kementrans kirim 36 peserta belajar pengentasan kemiskinan ke China

Namun terdapat kendala, katanya, dengan jumlah petani karet yang lebih banyak petani karet rakyat sekitar 90 persen dibanding dengan milik BUMN dan swasta. Ini ternyata ada kendala.

Kendala pertama, menurut dia, petani karet perlu replanting atau peremajaan karena produksinya sudah turun mengingat usia pohon karetnya sebagian besar lebih dari 25 tahun. Kemudian yang kedua, perlu ada program intensifikasi untuk perkebunan karet melalui pemupukan, pembangunan jaringan, dan lain sebagainya.

Ketiga, ujarnya, perlu ada riset yang memungkinkan agar nanti ada bibit baru dalam rangka untuk keperluan peningkatan produktivitas pohon karet sehingga semuanya itu menjadi sangat penting.

Menurut Viva Yoga, pemerintah dulu pernah menggaungkan Gerakan Nasional (Gernas) Karet, sebagaimana ada gerakan nasional untuk kakao, Gernas Kopi dan Gernas Karet.

"Kami bersama dengan asosiasi dan seluruh petani karet akan terus untuk bisa memaksimalkan produktivitas karet sehingga bisa menghasilkan devisa negara," katanya.

Baca juga: Kementrans buka potensi pakai lahan untuk tambang batu bara dan LTJ

Baca juga: Kementrans buka pendaftaran Tim Ekspedisi Patriot 2026 hingga 21 Mei

Pewarta: Suharsana Aji Sasra J C
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |