Jakarta (ANTARA) - Kementerian Sosial (Kemensos) menyediakan Taman Baca Inklusi (TBI) di Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi sebagai wadah literasi bagi Pemerlu Atensi Sosial (PAS) untuk berbagai pihak yang membutuhkan.
Dalam pernyataan di Jakarta, Kamis, penanggungjawab TBI, Ena Rudiah mengatakan fasilitas itu dapat dimanfaatkan oleh anak-anak dari penerima manfaat (PM), residensial, maupun layanan keluarga yang tidak tinggal di residen atau rusun, serta dirancang ramah anak dan penyandang disabilitas.
"Karena inklusif, kami terbuka untuk semua lapisan masyarakat," kata Ena Rudiah.
Ena menjelaskan ada berbagai kegiatan yang dilakukan di TBI STPL. Mulai dari belajar membaca, menulis, dan menghitung (calistung), menggambar, mewarnai, hingga melukis sebagai media terapi bagi penyandang disabilitas.
"Di sini juga diberikan terapi dengan seni. Art theraphy itu terapi seni melukis yang diajar oleh Pak Andri (salah satu instruktur di TBI STPL)," ujar Ena.
Kegiatan belajar di TBI, tuturnya, tidak dilakukan secara monoton atau formal. Melainkan dilaksanakan secara lebih menarik dan berdasarkan praktik.
Dia mencontohkan, salah satu peserta penyandang disabilitas di TBI, bernama Ucok yang diberikan pembelajaran non-formal terkait materi berhitung.
"Misalnya, Bang Ucok ini diajarkan, karena dia jualan air mineral, air itu harganya per botol Rp6 ribu, kalau kita belanja pakai uang Rp20 ribu, kembaliannya berapa? Itu kan belajar berhitung juga ya," jelas Ena.
Selain itu, TBI STPL juga telah dilengkapi berbagai buku bacaan, termasuk yang menggunakan huruf braille bagi penyandang disabilitas penglihatan atau tunanetra. Fasilitas ini diharapkan mampu meningkatkan budaya baca di semua kalangan anak-anak, remaja, maupun dewasa, melatih percaya diri, hingga mengembangkan potensi yang dimiliki.
"Poin pertamanya adalah tambang baca, tapi kita mengembangkan ke berbagai aspek. Jadi tambang baca ini berjalan, tapi di dalamnya banyak kegiatan yang juga untuk fungsi rehabilitasi sosial untuk masyarakat atau bagi pemerlu layanan kesehatan, untuk disabilitas, dan untuk anak sekolah," ujar Ena.
TBI STPL beroperasi setiap Senin-Jumat mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Selama berada di ruangan TBI, pihak pengelola menerapkan beberapa aturan, seperti anak-anak tidak boleh menggunakan gawai atau gadget. Hal ini bertujuan agar terjalin interaksi secara langsung antar peserta dan instruktur.
Ena menyebut, berdasarkan data yang dirangkum pihaknya, setiap bulan ada sekitar 200 anak dan remaja yang berkunjung di TBI, berdasarkan rekap yang dilakukan per bulan lewat buku pengujung.
Baca juga: Mensos Shalat Id bersama kelompok rentan di Sentra Mulya Jaya Jakarta
Baca juga: Libur lebaran, STIS tetap layani peserta pelatihan vokasional 24 jam
Baca juga: Mensos harap penerima manfaat rehabilitasi sosial segera hidup mandiri
Pewarta: Prisca Triferna Violleta
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2025