Matsuyama, Jepang (ANTARA) - Sebuah kebun binatang di Jepang bagian barat berupaya mengembangbiakkan orangutan langka melalui kerja sama konservasi dengan Indonesia, dengan mempertemukan individu jantan setempat dengan betina dari kebun binatang di Indonesia.
Hayato, orangutan Kalimantan jantan berusia 15 tahun di Tobe Zoological Park, Prefektur Ehime, telah memasuki usia reproduktif.
Namun, kebun binatang tersebut kesulitan menemukan pasangan karena jumlah spesies ini terbatas di Jepang dan berstatus sangat terancam punah dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Titik balik terjadi pada 2018 ketika Taman Safari Indonesia mengusulkan proyek konservasi bersama dengan kebun binatang milik pemerintah prefektur tersebut, yang sebelumnya berhasil mengembangbiakkan orangutan Sumatra.
Pemerintah Prefektur Ehime dan Indonesia menandatangani perjanjian konservasi satwa liar pada 2024, diikuti perjanjian peminjaman untuk pembiakan antara kedua kebun binatang pada April 2025.
Kebun binatang Tobe kemudian menerima seekor orangutan Kalimantan betina bernama Jennifer pada Desember 2025, sehingga total koleksi menjadi tiga individu, termasuk satu orangutan Sumatra.
Orangutan betina berusia 15 tahun itu mulai diperkenalkan kepada publik sejak Maret dan telah menarik banyak pengunjung. Orangutan Kalimantan umumnya memasuki usia reproduktif antara 12 hingga 15 tahun.
“Jennifer cerdas, jinak, dan sangat menyukai makanan, terutama jeruk dari Prefektur Ehime,” kata perawat satwa tersebut, Eriko Inoue.
“Kami berharap proses penjodohan ini berhasil,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa ia berharap pengunjung dapat memahami kondisi orangutan liar melalui kehadiran Jennifer.
Sumber: Kyodo
Baca juga: Pemerintah siapkan skema biaya peminjaman satwa endemik ke negara lain
Baca juga: Taman Safari resmikan rumah baru orangutan-harimau sumatera di Jepang
Penerjemah: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































