Jakarta (ANTARA) - Kajian ilmiah tim IPB University menyatakan bencana longsor dan banjir bandang di Sumatera, utamanya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Aek Garoga, Sumatera Utara lebih dipengaruhi oleh kombinasi faktor alamiah.
“Faktor itu antara lain curah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar, kondisi geologi berupa batuan induk liat masif yang kedap air, solum tanah yang tipis pada lereng-lereng curam, serta kemiringan lereng yang tinggi,” ujar Guru Besar Bidang Kehutanan IPB University Prof. Dr. Yanto Santoso dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Yanto mengatakan, penyebab bencana perlu juga dilihat dari aspek alamiah tersebut, tidak secara parsial pada satu entitas usaha.
Ia mencontohkan, aktivitas PT Tri Bahtera Srikandi (PT TBS) yang tidak menunjukkan bukti kuat sebagai penyebab banjir bandang dan longsor di DAS Aek Garoga.
Baca juga: Pemulihan pascabencana di Sumatera mencakup seluruh aspek pembangunan
Temuan IPB mengungkapkan, luasan kebun PT TBS yang benar-benar berada di wilayah DAS Garoga sangat kecil, bahkan diperkirakan kurang dari 0,5 persen dari total luas DAS yang mencapai sekitar 12.767 hektare.
Dari total izin lokasi 2.497 hektare, lahan yang telah dibuka hanya sekitar 282 hektare, dan yang telah ditanami sawit baru 86,5 hektare.
“Jika dibandingkan dengan skala DAS, kontribusi luasan tersebut secara hidrologis sangat terbatas. Secara ilmiah, sulit menyimpulkan bahwa luasan sekecil itu menjadi pemicu utama bencana berskala besar,” kata Yanto.
Sementara itu, sejumlah kepala desa di wilayah terdampak di Tapanuli Tengah menyampaikan penjelasan lapangan serta meminta pemerintah agar penanganan bencana didasarkan pada fakta geografis dan kondisi riil di lapangan.
Baca juga: Menhut perkuat perlindungan hutan lewat moratorium pemanfaatan kayu
Mereka menilai klarifikasi ini penting untuk mencegah kesimpulan sepihak yang berpotensi menimbulkan keresahan sosial dan ketidakadilan hukum.
Selain itu, mereka berharap pemerintah pusat dapat meninjau kembali informasi yang beredar, dengan mengedepankan verifikasi lapangan dan keterangan dari masyarakat yang tinggal langsung di wilayah terdampak.
Baca juga: KLH lakukan pengawasan 100 perusahaan di wilayah banjir Sumatera
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































