Ikan Sapu-Sapu di tengah problem struktural pencemaran sungai Jakarta

1 day ago 3
Operasi penangkapan ikan sapu-sapu seharusnya ditempatkan sebagai bagian dari strategi yang lebih besar. Ia penting sebagai langkah pengendalian. Namun, ini bukan solusi utama.

Jakarta (ANTARA) - Instruksi Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, untuk melakukan operasi penangkapan ikan sapu-sapu secara menyeluruh di ibu kota terdengar sederhana, bahkan masuk akal, sebagai respons cepat terhadap ancaman ekologis yang kasatmata.

Di satu sisi, langkah tersebut terasa konkret dan mudah dipahami. Ada aktivitas yang terlihat, hasil yang dapat dihitung, serta narasi kerja yang bisa disampaikan kepada publik. Namun, di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah kebijakan ini benar-benar menyentuh akar persoalan yang sesungguhnya

Ikan sapu-sapu bukanlah fenomena baru di Jakarta. Ia telah lama menjadi penghuni tetap sungai-sungai yang kualitas airnya menurun. Kehadirannya bahkan nyaris dapat diprediksi: di mana air tercemar, di situlah mereka berkembang. Hal ini menjadikan ikan sapu-sapu lebih dari sekadar spesies asing, melainkan bagian dari pola ekologis yang terus berulang.

Dalam kacamata ekologi, spesies seperti ikan sapu-sapu ini disebut sebagai indikator biologis. Kehadirannya menandakan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Artinya, keberadaannya bukan sebab utama, melainkan akibat dari kerusakan yang lebih dalam. Menghilangkannya tanpa memperbaiki kondisi sungai hanya akan mengulang siklus yang sama.

Karena itu, operasi penangkapan ikan sapu-sapu memiliki makna ganda. Di satu sisi, ia merupakan langkah pengendalian yang diperlukan dalam jangka pendek. Namun, di sisi lain, kebijakan ini berpotensi menjadi pengalihan dari persoalan yang jauh lebih mendasar.

Secara teknis, operasi penangkapan ikan sapu-sapu bisa dibenarkan. Namun, secara simbolik, ia menyerupai upaya menutup masalah tanpa benar-benar menyelesaikannya.

Sungai tidak menjadi bersih hanya karena ikan sapu-sapu berkurang. Air Sungai tetap bisa membawa limbah domestik, deterjen, dan sisa aktivitas rumah tangga. Dalam banyak kasus, beban pencemaran ini justru terus meningkat dari waktu ke waktu. Ikan hanyalah bagian yang terlihat dari persoalan yang jauh lebih luas.

Data berbagai studi lingkungan menunjukkan bahwa pencemaran sungai di wilayah perkotaan di Indonesia didominasi oleh limbah domestik. Persentasenya bisa mencapai lebih dari separuh total beban pencemar. Ini bukan persoalan kecil yang bisa diabaikan. Ini adalah struktur masalah yang membentuk kondisi sungai secara keseluruhan.

Ketika struktur ini tidak disentuh, setiap intervensi menjadi parsial. Ia bekerja pada satu titik, tetapi tidak mengubah sistem yang lebih besar. Hasilnya mudah ditebak, masalah kembali dalam bentuk yang sama. Bahkan, dalam beberapa kasus, kondisinya bisa menjadi lebih buruk.

Baca juga: Pramono instruksikan pembersihan ikan sapu-sapu di seluruh DKI

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |