Gaung takbir di tanah jejak bencana yang menyusup ke dalam gelora duka

3 hours ago 5
Mudah-mudahan di awal lebaran ini, kita membangkitkan semangat kita, agar kita tidak memikirkan yang kacau-balau itu

Agam (ANTARA) - Takbir Idul Fitri berkumandang tanpa gaung yang luas, hanya mengalun pelan dari pengeras suara berdaya kecil.

Dari kejauhan, warga tampak seolah muncul dari balik timbunan bebatuan. Pakaian bernuansa putih menjadi satu-satunya warna yang menonjol di tengah puing-puing yang kusam. Mereka melangkah perlahan dan hati-hati, menapaki jalur yang tak lagi rata menuju lapangan tempat salat Idul Fitri akan dilaksanakan.

Seorang perempuan berusia akhir 40-an terlihat berjalan sedikit tergesa, namun langkahnya tetap terjaga di antara batu-batu yang berserakan. Di belakangnya, seorang anak perempuan dan seorang perempuan lanjut usia mengikuti dengan langkah lebih pelan, menjaga keseimbangan di jalur yang tak pasti.

Tepat di belakang mereka, sebuah kubah berwarna hijau berdiri mencolok, kontras dengan dominasi abu-abu batu di sekitarnya. Kubah itu menjadi satu-satunya bagian masjid yang masih utuh. Dinding dan bagian lain bangunan telah habis dihantam bencana galodo atau banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut pada akhir November lalu.

Di antara hamparan batu itu, tak ada lagi rumah yang berdiri utuh. Fondasi yang miring menjadi penanda terakhir, sementara dindingnya nyaris tak tersisa. Tertutup batu-batu dari berbagai ukuran, bangunan-bangunan itu tampak kerdil, seakan perlahan tenggelam ke dalam tanah.

Langkah-langkah mereka mungkin kecil, namun tetap pasti, menuju ruang terbuka yang hari itu menjadi tempat salat Idul Fitri.

Semakin mendekati lapangan itu, nampak sebuah rumah bergonjong —atap khas Minangkabau— masih berdiri utuh, tegak seperti penanda sunyi bahwa kawasan ini luput dari terjangan terparah.

Sedikit menurun dari sana, gema takbir mulai terdengar berkumandang, meski tak sekeras tahun-tahun sebelumnya. Suaranya seperti tertahan, tak sepenuhnya lepas, seakan menyesuaikan dengan suasana yang masih diselimuti duka.

Tanah yang dahulu milik warga kini sengaja ditimbun batu-batu sisa longsor; reruntuhan yang disusun ulang menjadi harapan baru, tempat sebuah masjid akan segera berdiri. Di atasnya, sekitar 250 warga Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, duduk bersaf.

Di dekat saf bagian depan, hanya terdapat dua pengeras suara yang dibawa dari rumah warga.

Di bagian belakang, sebuah ekskavator berwarna oranye terdiam, namun kehadirannya berbicara banyak. Ia menjadi saksi sekaligus isyarat bahwa lapangan tempat salat itu baru saja dipacu pembangunannya.

Ketika salat dimulai, suasana berubah hening. Umat Muslim larut dalam bacaan imam yang masih terdengar jelas meski hanya mengandalkan mikrofon berdiri, bukan yang dipasangkan pada baju.

Baca juga: Kala pohon pinang jadi pengingat sujud penyintas bencana

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |