London (ANTARA) - Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan di London pada Sabtu (21/3), bergabung dengan gelombang demonstrasi yang kian meluas di seluruh Eropa menentang serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Di ibu kota Inggris itu, lautan demonstran berjalan dari Russell Square menuju Whitehall, mengibarkan spanduk dan meneriakkan slogan-slogan yang mengutuk serangan tersebut. Suara mereka menggema di seluruh pusat London seiring kekhawatiran terhadap peningkatan konflik meluas ke jalan-jalan.
(Xinhua) Dalam sebuah aksi unjuk rasa lainnya di hari itu, para peserta menyerukan gencatan senjata segera dan diakhirinya intervensi asing di Timur Tengah.
Mariam, seorang pengunjuk rasa yang memegang poster bertuliskan "STOP THE WAR ON IRAN", mengkritik penamaan operasi itu oleh Washington sebagai "Epic Fury" dan justru menyebutnya sebagai "Epic Failure".
"Tidak ada intervensi asing. Jangan campuri Timur Tengah dan hentikan pengeboman. Orang berhak hidup dalam damai. Anda tidak bisa mengebom orang demi demokrasi," ujarnya.
Pengunjuk rasa lain bernama Adrian, yang datang dari Birmingham, menyebut serangan terhadap Iran "sangat keterlaluan" dan "terus terang melelahkan." Dia memperingatkan bahwa konsekuensinya, termasuk kenaikan harga minyak dan ketidakamanan global, sudah mulai terasa.
Di tempat lain, aksi unjuk rasa juga dilaporkan di berbagai kota Eropa. Di Lisbon, beberapa ratus orang berkumpul di tengah hujan pada 14 Maret di dekat Kedutaan Besar AS dalam demonstrasi yang diselenggarakan oleh Dewan Perdamaian dan Kerja Sama Portugal (Portuguese Council for Peace and Cooperation).
Didukung oleh lebih dari 70 kelompok, para peserta mengecam apa yang mereka sebut sebagai agresi AS dan Israel, meneriakkan "Yes to peace, no to war" serta menyerukan pelucutan senjata.
(Xinhua) Demonstrasi di London merupakan bagian dari gelombang unjuk rasa yang lebih luas di Eropa pada Sabtu, mencerminkan meningkatnya penentangan terhadap serangan yang sedang berlangsung itu.
Di Spanyol, ribuan orang berkumpul di Madrid, dengan pihak berwenang memperkirakan sekitar 4.000 peserta.
Para pengunjuk rasa bergerak dari Atocha menuju Puerta del Sol, membawa spanduk bertuliskan "No to war, no to NATO" dan "Spain is not the U.S.".
Para pemimpin dari Partai Podemos, termasuk Sekretaris Jenderal Ione Belarra dan Sekretaris Politik Irene Montero, turut hadir dalam aksi tersebut.
Montero menyerukan Spanyol untuk keluar dari NATO, menyoroti kritik yang lebih luas terhadap kebijakan militer Barat di kawasan tersebut.
(xinhua) Di Bulgaria, ratusan orang turun ke jalanan di Sofia pada 2 Maret lalu, membawa spanduk bertuliskan "No war against Iran" dan "U.S. military aircraft are not welcome here". Para pengunjuk rasa menyerukan penghentian serangan dan menuntut penarikan pesawat militer AS dari wilayah Bulgaria.
Demonstrasi serupa juga berlangsung di negara-negara seperti Prancis dan Yunani, saat konflik memasuki pekan ketiganya.
(Xinhua) Di tengah reaksi publik ini, kritik juga muncul dari para analis Eropa. Rob de Wijk, seorang profesor di Universitas Leiden, Belanda, menyebut tindakan AS sebagai "pemerasan terang-terangan" dan memperingatkan hal itu dapat menimbulkan risiko bagi keamanan Eropa. Dia berpendapat Eropa sebaiknya mengurangi ketergantungan pada AS dan memperkuat otonomi strategisnya.
Pewarta: Xinhua
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.


















































