Ekonom nilai surplus beras perlu diikuti pemerataan distribusi

4 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai surplus beras nasional perlu diikuti pemerataan distribusi agar pasokan yang melimpah dapat diakses masyarakat dengan harga terjangkau.

“Dalam kerangka ketahanan pangan yang utuh, indikatornya bukan cuma ketersediaan. Penting juga akses, keterjangkauan, dan stabilitas,” kata Eliza saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan proyeksi neraca pangan Kementerian Pertanian (Kementan), produksi beras pada 2026 diperkirakan mencapai 34,77 juta ton, sementara kebutuhan nasional sebesar 31,10 juta ton sehingga terdapat surplus sekitar 3,67 juta ton.

Perum Bulog mencatat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola mencapai 5,25 juta ton per 9 Agustus 2026. Pemerintah juga menargetkan ekspor beras ke Malaysia dengan pengiriman awal sebanyak 1.000 ton.

Menurut Eliza, surplus produksi secara agregat belum otomatis menunjukkan seluruh masyarakat Indonesia memiliki akses memadai terhadap beras dengan harga terjangkau.

Ia mengatakan persoalan utama masih terletak pada rantai distribusi antarpulau, tingginya biaya logistik, keterbatasan fasilitas penyimpanan di daerah, serta struktur pasar yang terbatas di wilayah terpencil.

Eliza menilai pemerintah perlu memperkuat infrastruktur distribusi secara sistematis melalui penambahan fasilitas penyimpanan di daerah terpencil, operasi pasar yang lebih rutin dan terukur, serta perbaikan konektivitas antarpulau untuk menekan biaya angkut.

Menurut dia, ekspor beras tetap memberikan manfaat berupa tambahan devisa dan perbaikan neraca perdagangan, tetapi perlu ditempatkan sebagai langkah sekunder apabila akses dan stabilitas harga di seluruh wilayah domestik telah terjaga.

“Membuka peluang ekspor meskipun dalam volume kecil sebagai uji pasar seharusnya ditempatkan sebagai langkah sekunder setelah indikator akses dan stabilitas harga di seluruh wilayah dalam negeri terpantau aman,” ucapnya.

Ia menjelaskan dampak devisa dari rencana ekspor awal sebanyak 1.000 ton ke Malaysia relatif kecil dibandingkan dengan total ekspor nonmigas Indonesia.

Sementara gangguan distribusi, lanjutnya, berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat di daerah yang secara geografis sulit dijangkau.

Eliza menilai surplus produksi akan lebih bermakna apabila peningkatan ketersediaan beras di tingkat nasional diikuti harga yang terjangkau dan pasokan yang stabil hingga pulau-pulau kecil serta wilayah pedalaman.

“Sebaiknya kita memprioritaskan distribusi dalam negeri sebelum memperluas ekspor,” ujar dia.

Persoalan distribusi antara lain sempat disampaikan mahasiswa asal Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), Adriano Padama, yang menyebut harga beras di wilayah pedalaman dapat mencapai Rp25.000-Rp30.000 per kilogram ketika distribusi terganggu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kemudian mengunjungi Alor dan meminta Perum Bulog memastikan ketersediaan stok serta melakukan operasi pasar apabila dibutuhkan agar masyarakat memperoleh beras dengan harga terjangkau.

Sementara itu, pemerintah terus melakukan intervensi pasokan dan distribusi melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat penyaluran beras SPHP sejak Maret hingga 8 Agustus 2026 mencapai 610,3 ribu ton atau 73,71 persen dari target 828 ribu ton.

Bapanas juga memprioritaskan pasar rakyat sebagai titik utama distribusi beras SPHP untuk memperkuat ketersediaan pasokan sekaligus menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen.

Selain SPHP, Bapanas menugaskan Perum Bulog menyalurkan 997,2 ribu ton bantuan pangan beras kepada 33.244.408 penerima untuk alokasi Juli-September 2026.

Setiap penerima memperoleh 10 kilogram beras per bulan selama tiga bulan atau total 30 kilogram yang dapat disalurkan sekaligus.

Terkait di Kabupaten Alor, Bapanas bersama Perum Bulog mulai menyalurkan bantuan pangan pada 8 Agustus 2026 kepada 37.338 penerima untuk alokasi Juli-September, dengan setiap penerima mendapatkan total 30 kilogram beras.

Baca juga: Kemendag buka peluang perluasan ekspor beras Indonesia

Baca juga: Kepala Bapanas: Penambahan gudang beras di Papua Selatan jaga surplus

Baca juga: Bulog siap distribusi bantuan beras ke 33,2 juta KPM mulai 17 Agustus

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |