Istanbul (ANTARA) - Paus Leo, Jumat, memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) tidak boleh dibiarkan mengurangi nilai kemanusiaan seraya mendesak para pemimpin politik memastikan inovasi teknologi itu melayani kepentingan bersama.
Berbicara kepada anggota International Catholic Legislators Network, Paus Leo mengatakan perkembangan pesat kecerdasan buatan memunculkan salah satu persoalan moral yang menentukan pada era modern.
“Setiap pencapaian teknologi juga menghadapkan umat manusia pada pertanyaan moral, bukan hanya apa yang dapat kita lakukan, tetapi apa yang seharusnya kita lakukan?” katanya.
Leo mengatakan para legislator bertanggung jawab untuk tidak menghambat inovasi, tetapi mengarahkannya secara bijaksana.
Ia menyerukan peraturan yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus melindungi hak-hak serta kebebasan mendasar.
Ia mengatakan kebijakan tersebut harus melindungi pengguna dari eksploitasi, menjaga privasi, memastikan transparansi, dan memperkuat institusi demokrasi.
Paus Leo juga memperingatkan bahwa perkembangan AI yang pesat dapat menciptakan bentuk-bentuk ketergantungan teknologi baru, khususnya bagi negara-negara miskin, serta berisiko menjadi alat “kolonialisme ideologis atau ekonomi”.
Ia menyoroti kekhawatiran mengenai algoritma yang menentukan “siapa yang terlihat” atau tetap tidak terlihat, serta platform digital yang membentuk wacana publik tanpa pertanggungjawaban.
“Dunia tidak membutuhkan kecerdasan buatan yang mengurangi nilai kemanusiaan,” kata Leo.
“Hanya dengan demikian kecerdasan buatan akan menjadi bukan pesaing bagi umat manusia, melainkan pelayan bagi kepentingan bersama,” tambahnya.
Sumber: Anadolu
Baca juga: Wapres Vance sambut baik ensiklik Paus Leo XIV soal risiko AI
Baca juga: Ensiklik pertama Paus Leo XIV tekankan soal kemanusiaan di era AI
Penerjemah: Primayanti
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































