Ekonom: Kebijakan DHE SDA jadi lapisan tambahan ketahanan eksternal RI

5 hours ago 1

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai kebijakan baru pemerintah terkait devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) berperan menjadi lapisan pertahanan tambahan bagi stabilitas eksternal Indonesia.

“Kebijakan ini dapat memperkuat likuiditas valuta asing (valas) domestik, membantu stabilisasi pasar, dan memberi ruang bernapas yang lebih besar bagi sistem keuangan,” ujar Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Senin.

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan upaya pemerintah menjaga ketersediaan dolar AS di dalam negeri di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Selama ini, kata Yusuf, sebagian besar DHE tidak bertahan lama dalam sistem keuangan domestik karena langsung dikonversi ke rupiah atau digunakan untuk berbagai kebutuhan lain. Kondisi tersebut membuat pasokan dolar di pasar domestik relatif terbatas.

Dalam konteks itu, dia berpendapat manfaat utama kebijakan ini bukan terletak pada peningkatan cadangan devisa negara secara langsung, melainkan pada bertambahnya likuiditas dolar di sistem perbankan nasional.

Dengan likuiditas valas yang lebih besar, pasar keuangan domestik dinilai memiliki ruang yang lebih kuat untuk meredam gejolak eksternal dan perbankan memiliki akses pendanaan dolar AS yang lebih besar.

Di sisi lain, Yusuf melihat potensi manfaat lain pada kebijakan ini adalah pemanfaatan dana DHE sebagai agunan kredit. Skema tersebut memungkinkan eksportir tetap memperoleh fleksibilitas likuiditas, sementara perbankan memiliki peluang menyalurkan pembiayaan dengan risiko yang lebih terukur.

“Jika dana yang mengendap dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh pembiayaan modal kerja, maka eksportir tetap memperoleh fleksibilitas likuiditas sementara bank mendapatkan peluang ekspansi kredit dengan risiko yang relatif rendah. Pada tahap itulah likuiditas mulai berubah menjadi aktivitas ekonomi yang produktif,” jelasnya.

Selain itu, insentif perpajakan yang disiapkan pemerintah diharapkan dapat mendorong eksportir mempertahankan dana lebih lama di dalam negeri sehingga memperkuat pasokan valas nasional.

Meski demikian, Yusuf menyebut efektivitas kebijakan tetap bergantung pada kemampuan sistem keuangan menyalurkan likuiditas tersebut ke sektor-sektor produktif.

Hal itu guna memastikan dana yang tersimpan tidak hanya memperkuat stabilitas pasar, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi dan penciptaan nilai tambah.

“Karena itu saya melihat kebijakan DHE ini sebagai lapisan pertahanan tambahan bagi stabilitas eksternal Indonesia, bukan sebagai solusi tunggal,” tuturnya.

Baca juga: Kemenkeu beri insentif pajak untuk devisa ekspor disimpan dalam negeri

Baca juga: Airlangga sebut tak ada pengecualian negara dalam aktivitas ekspor DSI

Baca juga: Airlangga: Eksportir SDA bisa tambah likuiditas di luar konversi DHE

Pewarta: Imamatul Silfia
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Rakyat news | | | |